Berita Muratara

Harga Sawit Mulai Naik Usai Lebaran, Di Muratara Sempat Anjlok Rp 1.000 Per Kg

Harga buah sawit di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mulai berangsur naik kembali Pasca-lebaran Idul Fitri 1443 tahun 2022

Penulis: Rahmat Aizullah | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM/RAHMAT
Tumpukan TBS sawit di salah satu pengepul atau RAM di Kabupaten Muratara.Harga TBS sawit di Muratara pasca-lebaran Idul Fitri berangsur naik kembali. 

Laporan Wartawan TribunSumsel.com, Rahmat Aizullah 


TRIBUNSUMSEL.COM, MURATARA- Pasca-lebaran Idul Fitri 1443 tahun 2022, harga buah sawit di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) mulai berangsur naik kembali. 

Sebagaimana diketahui, sebelum lebaran harga buah sawit sempat anjlok hingga di bawah Rp 1.000 per kilogram (kg) di tingkat petani.

"Alhamdulillah sepertinya setelah lebaran ini mau mulai naik lagi, kalau sebelum lebaran anjlok, bukan turun lagi namanya, tapi berubah harga, terjun bebas," kata Ahmad, petani sawit di Kecamatan Karang Dapo pada TribunSumsel.com, Selasa (10/5/2022). 

Ia mengungkapkan pengepul atau pemilik RAM membeli buah sawit petani saat ini dengan harga Rp 2.000-an.

Harga tersebut berangsur naik kembali pasca lebaran Idul Fitri dari harga anjlok sebelumnya di bawah Rp 1.000 per kg. 

"Sebelum lebaran kemarin seribuan, ada juga RAM yang beli di bawah seribu, nah sudah lebaran ini mulai naik lagi ini, sekarang dua ribu dua ratus sekilo," kata Ahmad. 

Ia berharap harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali pada harga tertinggi sebelumnya yang sempat menyentuh Rp 3.500 per kg. 

"Harapannya ya balik lagi harga tiga ribuan seperti waktu itu sebelum anjlok, mudah-mudahan dari dua ribuan sekarang berangsur naik terus sampai tiga ribuan lagi," harapnya.

Petani sawit lainnya, Abas mengaku agak lesu panen sawit saat ini karena menurunnya harga TBS dari sebelumnya Rp 3.000-an.

Namun demikian, ia tetap bersyukur karena sudah merasakan dampak saat harga sawit sedang mahal kala itu. 

"Harus banyak-banyak bersyukur, waktu harganya mahal kemarin alhamdulillah kita dapat lebih, sekarang turun tetap kita syukuri, mudah-mudahan bisa naik lagi," harapnya. 

Abas mengaku memang tak memiliki lahan perkebunan sawit yang cukup luas, hanya sekira satu hektare. 

Dalam satu hektare tersebut, hasil panen yang didapat sebanyak 600 kg TBS. 

Ia panen dua kali dalam sebulan atau dua pekan sekali. 

Baca juga: Polwan Polda Sumsel Laporkan Suaminya ASN OKI Selingkuh, Briptu Suci Darma Sempat Dapat Hambatan

Saat harga TBS sawit sedang tinggi, Abas mengatakan tidak ingin euforia atau berlebihan menanggapinya. 

Pendapatannya dari hasil panen sawit tersebut dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sekolah anak, dan ditabung.

"Cukup lah untuk makan, untuk anak sekolah, ditabung, kalau ada lebih siapa tahu bisa beli lahan untuk buka kebun lagi," ujarnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved