Berita Viral

Viral Indonesia 1958, Ini Maksud dan Sejarahnya, Ada Keterlibatan CIA

Sejarah Indonesia 1958 sendiri merupakan upaya kudeta pihak asing terhadap Presiden Soekarno. tentang CIA yang melakukan kudeta ke Soekarno

Tayang:
ist
Indonesia 1958 

Sukarno menolak tuntutan itu dan memerintahkan pemimpin TNI, Jendral Abdul Haris Nasution untuk menghentikan pemberontakan itu.

Pada bulan Februari 21, TNI menerbangkan prajurit ke Sumatra dan memulai penyerangan.

Markas pemberontakan di kota Padang dan Permesta mempunyai kedudukan kuat di semua daerah sampai ke Medan.

CIA mendukung pemberontakan di Indonesia melalui markas udara di Naha, Okinawa, dibawah kepemimpinan Ted Shanon. Fasilitas lainnya adalah di Taiwan, dimana pesawat pembom A-26 disiapkan untuk diterbangkan ke pangkalan di Filipina yang kemudian dipakai untuk membantu pemberontak di Indonesia.

CIA, melalui stok senjata marinir dan angkatan darat Amerika, memberi 42.000 pucuk riffles.

Pemberontak Indonesia yang telah dipersenjatai, kemudian dikembalikan ke Sumatra melalui air drop dari Filipina dan juga didaratkan dengan kapal selam.

Pada bulan Mei 1958, sebuah A-26 yang dioperasikan oleh perusahaan penerbangan CAT Civil Air Transport ditembak saat operasi pengeboman dan pemberitaan penembakan ini menghentikan operasi mendukung pemberontakan Permesta.

Bergejolak

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) atau yang dikenal dengan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) dinilai Ahli sejarah

Nina Herlina Lubis dan pengamat milite Salim Said, bukan sebuah gerakan pengkhianatan terhadap negara, melainkan bentuk koreksi untuk pemerintahan pusat pada waktu itu yang dipimpin Presiden Soekarno.

Soekarno pada saat itu sudah tidak bisa lagi diberikan nasihat dalam menjalankan pemerintahan sehingga terjadi ketimpangan sosial.

Selain itu, presiden Soekarno pun juga sudah melanggar amanat undang-undang dan sudah dibumbung komuni (PKI) sehingga timbulah gerakan tersebut.

"Itu bukan pemberontakan, tetapi gerakan koreksi dari daerah terhadap pemerintah pusat karena sudah melanggar undang-undang, pemerintahan yang sentralistis, sehingga pembangunan di daerah menjadi terabaikan, dan menimbulkan ketidak adilan dalam pembangunan.

Karena Soekarno sudah tidak mau mendengarkan masukan lagi, maka timbulah inisiatif biar kami saja yang menggantikan," tutur Sejarawan Nina Herlina Lubis di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (13/7/2011) seusai bedah buku Memoar Ventje H N Sumual.

Begitu juga dengan pengamat militer Salim Said, menurutnya PRRI/ Permesta tidak memiliki niatan untuk memisahkan diri dari Indonesia dan mengganti ideologi Pancasila ataupun bendera kebangsaan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved