Breaking News:

Wawancara Eksklusif Tribun Sumsel

Gubernur Sumsel Herman Deru Menata Hati Pasca Kepergian Percha, Akui Belum Move On 100 Persen

Herman Deru perlahan mulai menata hati. Meski belum 100 persen move on, namun Deru menegaskan hal ini sebagai ujian baginya untuk tetap tangguh.

Editor: Vanda Rosetiati
LINDA TRISNAWATI
Gubernur Sumsel Herman Deru mengakui mulai menata hati pasca meninggalnya putri sulungnya Percha Leanpuri pada 19 Agustus 2021 lalu. Meski diakuinya hingga saat ini dirinya belum bisa move on 100 persen. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pada 1 Oktober 2021 mendatang, tepat tiga tahun Gubernur Sumsel Herman Deru memimpin Provinsi Sumatera Selatan. Di dua tahun kepemimpinannya, Herman Deru dihadapkan dengan Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, termasuk Sumatera Selatan dam beragam persoalan lain yang berlahan tapi pasti terus dituntaskan.

Gubernur HD juga diberi ujian hidup yang tak ringan. Putri sulungnya Hj Percha Leanpuri meninggal dunia 19 Agustus 2021 lalu. Kepergian Titi begitu Percha akrab disapa yang meninggalkan suami, tiga putra-putri termasuk dua bayi kembar yang baru dilahirkannya adalah kedukaan mendalam bagi keluarga besar Gubernur Herman Deru juga masyarakat Sumsel.

Semasa hidupnya Percha dikenal sosok humble, merakyat. Bahkan hingga akhir hayatnya Percha masih berstatus anggota DPR RI dari Fraksi NasDem.

Pasca kepergian putri sulungnya sebulan lalu, Herman Deru perlahan mulai menata hati. Meski belum 100 persen move on, namun Deru menegaskan hal ini sebagai ujian baginya untuk tetap tangguh menjalani roda kehidupan.

"Saya ini move on nya belum 100 persen. Setiap ngomong soal Percha air mata saya saja masih netes," Rabu (15/9/2021).

Meski berat harus kehilangan buah hati tercinta, namun Deru mengaku hal tersebut bukanlah musibah melainkan ujian baginya agar tetap tangguh dan tegar menjalani kehidupan serta amanah sebagai seorang Gubernur Sumsel.
Walau secara fisik, putri sulungnya telah tiada namun Deru menilai semangat serta jiwa Percha masih setia berada di sampingnya. Maka itu, perlahan ia mulai menata hati dan belajar dari cobaan yang dihadapi untuk tetap tangguh.

"Meski fisiknya sudah tidak ada bersama kita, tetapi saya yakin jiwa dan semangatnya tetap ada di samping kita. Kita belajar untuk merecovery ini untuk bisa tetap tangguh. Spirit dia itu menjadi bekal untuk kita terus maju," jelasnya.

Bagi Deru, Percha merupakan hadiah paling indah diberikan Allah SWT kepada keluarganya. Ananda Percha lahir di saat usianya masih 18 tahun. Percha tumbuh sebagai anak sesuai dengan budi pekertinya yang baik. Beberapa sifat yang ada di dalam jiwa Percha itu terdapat modernisasi dan ketradisionalan.

Hal tersebut bisa terlihat dari sosok yang tetap tidak pernah melupakan kearifan lokal meski telah sekolah sampai ke luar negeri.

"Percha ikut dalam proses karir saya mulai dari jadi pengusaha sampai sekarang. Percha itu orangnya baik sekali dan tak pernah lupa tentang kearifan lokal," ungkap Deru.

Ramainya makam Percha yang selalu dikunjungi peziarah diakui Deru merupakan gambaran ia semasa hidup. Dengan habluminanas-nya semasa hidup, membuat semua kalangan mulai dari masyarakat sampai kepala daerah terus berdatangan berziarah ke makam Almarhumah.

"Bahkan Pak Presiden pun waktu nelpon saya menanyakan Percha. Almarhumah mengena ke hati siapa saja. Mudah-mudahan simpatinya Percha itu menjadi inspirasi bagi semua orang khususnya bagi saya," ungkap Deru. (Oca)

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved