Cerita Khas Palembang

Melihat Kampung Pembuatan Ikan Asin 5 Ulu Palembang, Produksi Ratusan Kilogram Setiap Hari

Sebanyak 21 pelaku usaha ikan asin sehari-hari memproduksi ratusan kilogram ikan asin yang siap dijual ke agen di pasar tradisional

Penulis: Rachmad Kurniawan | Editor: Wawan Perdana
Tribun Sumsel/ Rachmad Kurniawan
Aktivitas penjemuran ikan asin di Lorong Keramat, Kawasan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Kawasan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Lorong Keramat, Kota Palembang adalah sentra pembuatan ikan asin terbesar di Palembang. Aktivitas ekonomi masyarakatnya terus berjalan di tengah gempuran pandemi Covid-19.

Sebanyak 21 pelaku usaha ikan asin sehari-hari memproduksi ratusan kilogram ikan asin yang siap dijual ke agen di pasar tradisional.

Aktivitas menjemur, menyiang dan merendam ikan sudah dilakukan sejak pukul 04:00 WIB dini hari hingga menjelang siang.

Sebelumnya ikan sudah direndam dengan air garam selama satu malam.

Dengan belasan wadah yang berisi ikan dan air, tidak hanya orang dewasa bahkan beberapa anak kecil membantu orang tuanya membersihkan ikan.

Meliana (45), pengusaha ikan asin ini mengatakan, belakangan ini pelaku usaha ikan terkendala modal usaha belum lagi cuaca yang sedang tidak menentu membuat ikan yang dijemur tidak kering.

Baca juga: Profil Kurmin Halim, Pengusaha Sukses Ikut Wakili Serahkan Bantuan Rp 2 Miliar ke Kapolda Sumsel

"Sepekan ini sering hujan jadi ikan yang sudah dijemur dari Subuh tidak kunjung kering. Alhasil membuat nilai jualnya turun dan membuat penghasilan kecil," katanya saat dibincangi, Minggu (5/9/2021).

Ikan yang seharusnya dijemur kering dalam waktu setengah hari menjadi 2-3 hari. Ikan dijemur pukul 04:00 WIB akan kering sekitar pukul 14:00 WIB siang.

"Kalau 3 hari tidak kering juga warna ikan asin tidak cerah, kami jual murah saja berapa orang mau beli, " ujarnya.

Dalam satu hari ia mampu menjual 50 kilogram - 100 kilogram ikan asin tergantung pasokan ikan yang di datangkan dari Sungsang, Kabupaten Banyuasin.

Ikan asin yang sudah selesai diolah kemudian dijual kepada agen yang memasok ikan di Pasar tradisional.

"Sebelum pandemi Covid-19 bisa 200 kilogram terjual, sekarang hanya 50 kilogram karena ikan yang dibeli dari daerah Sungsang terbatas dan faktor pandemi. Pasokan ikan dalam sepekan hanya 150-200 kilogram. Tapi kalau lagi banyak bisa 500 kilogram, " katanya.

Ia dan pelaku usaha ikan asin lainnya mengupayakan agar sentra pembuatan ikan asin mendapat perhatian Pemerintah setempat dan instansi terkait lainnya untuk membantu permodalan.

Aktivitas warga di sentra pembuatan ikan asin di Lorong Keramat, Kawasan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Minggu (5/9/2021)
Aktivitas warga di sentra pembuatan ikan asin di Lorong Keramat, Kawasan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Minggu (5/9/2021) (Tribun Sumsel/ Rachmad Kurniawan)

"Sejauh ini belum ada, baru sebatas survey yang dilakukan oleh perbankan rencananya mau bantu modal. Kami harap bisa terbantu dari segi modal dan pengadaan barang atau ikan, kalau perputaran uang putus kami tak dapat ikan, " jelasnya.

Ikan yang dipakai adalah ikan belahan, ikan bilis, dan ikan bulu ayam. Ikan asin bulu ayam dijual seharga Rp 35 ribu per kilogram sedangkan ikan belahan Rp 20 ribu dan ikan asin bilis Rp 25 ribu per kilogram.

Rata-rata pelaku usaha ikan asin di Kelurahan 5 Ulu melibatkan lima atau enam orang pekerja harian yang memiliki tugas masing-masing. Seperti membersihkan/menyiang ikan hingga menjemur.

Ketika selesai dijemur dan siap dijual, ikan yang dihasilkan dari sini bisa bertahan sampai kurang lebih satu bulan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved