Petani Karet Bingung, Harga Tak kunjung Naik Ditambah Curah Hujan Tinggi
Akibat tingginya curah hujan yang terjadi belakangan ini petani karet di beberapa wilayah Kabupaten Empat Lawang kebingungan.
Penulis: Sahri Romadhon | Editor: Prawira Maulana
TRIBUNSUMSEL.COM, EMPAT LAWANG - Akibat tingginya curah hujan yang terjadi belakangan ini petani karet di beberapa wilayah Kabupaten Empat Lawang kebingungan.
Heru (34) seorang petani karet di Kecamatan Tebing Tinggi menuturkan dengan naiknya curah hujan belakangan ini petani tidak bisa melakukan penyadapan getah karet.
”Hampir setiap hari hujan terus jadi kami tidak bisa menyadap dimana memang setiap setiap tahunnya selalu terjadi,” Kata Heru, Jumat (27/08/2021).
Ia bercerita dalam proses menyadap karet pohon karet harus dipastikan dalam keadaan kering, agar getah sadapan tidak keluar dari aliran yang sudah disiapkan.
Dimana jika kondisi batang pohon karet basah maka cairan getah karet akan terbuang sia-sia.
”Stop nyadap dulu karena getahnya tidak akan masuk ke penampungan,” ujar pria yang sudah puluhan tahun menggeluti profesi petani karet itu.
Ia juga bercerita jika cuaca panas tentu bisa menyadap setiap hari dan hasilnya akan maksimal,” Ya walaupun harganya murah saya tetap ada pemasukan,” Katanya.
Heru tidak kehabisan akal untuk meminimalisir curah hujan ia mengakalinya dengan menutupi pohon karet dengan menggunakan karung goni.
Terakhir ia menyampaikan walaupun harga karet belum ada tanda-tanda akan naik ia tetap bersyukur karena memang belum ada sumber penghasilan yang lain.
”Harga karet per kilogram sekarang masih Rp 6.500, dimana biasanya saya dapat rata-rata 20-25 kilogram,” tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/petani-karet-empatlawang879879798.jpg)