Menuju Herd Immunity
Covid-19 Bisa Mengganas di Musim Pancaroba, Ahli Epidemiologi Unsri Ingatkan Ini
Memasuki musim pancaroba, masyarakat diingatkan untuk waspada Covid-19 bisa mengganas khususnya di Sumsel.
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ahli Epidemiologi dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Iche Andriani Liberty, SKM, MKes mengungkapkan kekhawatirannya, jika lonjakan virus Covid-19 saat ini masih akan mengganas, khususnya di Sumsel.
Hal ini dijelaskan Iche, mengingat wilayah Sumsel, saat ini sudah masuk musim peralihan atau pancaroba. Saat pancaroba merupakan musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau atau sebaliknya.
Kasus warga Sumsel yang terpapar Covid-19, sudah mendekati angka penambahan positif mencapai seribu per hari, dan mengingat saat ini musim pancaroba, maka kontribusi peningkatan dari pergantian musim itu bisa bertambah.
"Sekarang masuk musim pancaroba, sehingga harus benar- benar bisa menjaga kesehatan. Kalau memang lagi kurang fit jangan keluar dulu, konsumsi multivitamin yang direkomendasikan, apakagi Menkes sudah mengeluarkan rekom vitamin c, d tapi tetap dikonsultasikan dengan fasilitas kesehatan," kata Iche, Sabtu (17/7/2021).
Ia memprediksi kasus penambahan ditengah musin pancaroba akan tetap memberikan kontribusi, meski jumlahnya tidak signifikan namun hal itu harus bisa diantisipasi dari awal.
"Sebenarnya kalau pancaroba hal biasa namun kita selama ini harus bisa membiasakan hidup 3M (Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan berulang dengan sabun) maka terjaga inveksi lainnya. Kalau seperti pileg biasa, tapi sekarang kita harus lebih hati- hati, karena ancaman covid-19 dengan lonjakan yang ada ini sebenarnya ini wabah dan bisa menjalan, setelah negara lain kemudian Indonesia, pulau Jawa- Bali dan Sumsel dimana virus dibawak orang ke orang ibarat memadamkan api jika tidak tepat sasaran maka akan terus menyala," ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan jika status daerah hanya kuning dan hijau, ia sering mengingatkan untuk jangan abai dan harus tetap protokol kesehatan.
"Apalagi virus dibawah orang dan ada ya mobilitas masyarakat yang tinggi virus bisa berpindah. Jadi tidak ada zona kuning, dan hijau lagi saat ini. Tapi kita harus hati- hati dan tidak abai," tandasnya.
Ia pun mengingatkan, dengan jumlah kasus terpaparnya masyarakat Sumsel karena virus Covid-19, yang angkanya sudah hampir seribu penambahan dalam sehari. Maka, masyarakat harus lebih waspada dan bisa beristirahat atau ke dokter jika tubuhnya dirasa kurang sehat.
"Ketika sedang tidak sehat, cepat hubungi fasilitas kesehatan (online), sehingga nanti diarahkan bagaimana kedepan. Jadi, manfaatkanlah sebelum terlambat, terlambat dalam artian sudah berat dan sesak baru ke Rumah Sakit itu salah, mengingat tempat tidur di rumah sakit saat inu sudah diatas 75 persen. Apalagi inveksi virus Covid-19 dan penularan dari kluster sudah tidak tahu lagi dimana," tukasnya.
Ditempat terpisah, Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Palembang dr Yuliarni menyatakan, dari total sasaran vaksinasi di Kota Palembang sebanyak 1.242.206 yang akan divaksin. Hingga saat ini (16 Juli) total vaksinasi dosis 1 baru mencapai 305.846 orang atau sekitar 24 persen.
Dimana capaian sasaran vaksinasi tahap I (SDM kesehatan) sudah mencapai 14.532 orang atau 98 persen, tahap II petugas publik 208.382 orang (110 persen) dan Lansia baru teralisasi 35.842 orang (20 persen) serta tahap III masyarakat rentan dan umum 41.478 (6 persen) maupun remaja 5.612 (3 persen).
Sedangkan dosis 2 capaian sasaran vaksinasi tahap I (SDM kesehatan) sudah mencapai 13.150 orang atau 89 persen, tahap II petugas publik 77.749 orang (41 persen) dan Lansia baru teralisasi 29.832 orang (16 persen) serta tahap III masyarakat rentan dan umum 12.945 (2 persen) maupun remaja (0 persen).
Baca juga: Dinas Perdagangan Sumsel Siapkan 200 Ribu Tabung Oksigen Subsidi dari Pertamina
Sebelumnya, Kepala Stasiun BMKG SMB II Sumsel Desindra Kurniawan menyatakan, jika provinsi Sumsel saat ini sudah memasuki awal musim kemarau yang dimulai awal Juni, dan saat ini wilayah Sumsel sudah masuk musim peralihan atau pancaroba. Akan tetapi pertumbuhan potensi awan itu masih ada dan potensi bibit- bibit awan ini sangat penting bagi TMC berdasarkan pantauan citra satelit dan radar.
"Potensi pertumbuhan itu berada di wilayah Sumsel, dan nanti akan dipetakan lagi yang bisa disemai dan bisa jadi hujan, seperti lahan gambut OKI dan timur serta Banyusin," ungkapnya seraya hal ini diperkirakan akan berlangsung sampai akhir Juni.
Ditambahnya, jika kemarau berdasakan pantauan pihaknya secara klimatologi, meski masuk kemarau masih ada potensi hujan, dan diprediksi dalam 10 harian itu berkisar antara 0-50 mm curah hujan yang ada. Meski kecil, namun ini sangat bermanfaat dalam penanganan kebakatan lahan dan hutan kedepan.
"Untuk puncak kemarau diprediksi akan terjadi Agustus hingga akhir Oktober mendatang, namun kita tidak tahu apakah kemarau kering atau basah. Dimana pantauan Klimatologi BMKG pusat normalnya cenderung lebih kering dibanding 2020," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/epidemiolog-unsri-dr-iche-andriany-liberty-tentang-migrasi-saat-salat-ied-1442-h.jpg)