Breaking News:

Berita Muba Babel United

Muba Babel United Akui Rugi Hingga Rp 2 M Karena Kompetisi Ditunda, Minta PSSI Putuskan Soal Gaji

Muba Babel United Akui Rugi Hingga Rp 2 M Karena Kompetisi Ditunda, Minta PSSI Putuskan Soal Gaji

Editor: Slamet Teguh
Sripoku.com/ Fajeri Ramadhani
Mamadou Hady Barry ketika mengikuti sesi latihan bersama Muba Babel United di Stadion Serasan Sekate. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pandemi Covid-19 yang masih terjadi di Indonesia.

Membuat ajang sepakbola Liga 1 dan Liga 2 Indonesia resmi kembali ditunda.

Karena ditundanya kompetisi tersebut membuat Achmad Haris Manajer Muba Babel United mendesak agar PSSI selaku Federasi sepakbola tanah air dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi Liga segera menerbitkan surat edaran kepastian gaji pemain sepakbola. 

"Sekarang PSSI atau PT LIB harus segera kasih kepastian soal masalah gaji pemain. Buat surat edaran berapa persen gaji. Harus seragam," ungkap Manajer Tim MBU, Achmad Haris. 

Kembali tertundanya kompetisi Liga 2 Indonesia mendapat sorotan dari manajemen Muba Babel United (MBU). Klub kebanggaan masyarakat Musi Banyuasin ini menyebut kembali ditundanya pelaksanan kompetisi Liga 2 Indonesia 2021 menimbulkan efek bola salju.

"Kalau bicara kerugian tentu MBU juga mengalaminya, karena kamu sudah melakukan persiapan cukup lama. Dengan penundaan ini tentu manajemen harus kembali menyusun ulang program dan durasi kontrak di seluruh aspek akan mengalami penambahan waktu," kata Haris. 

Menurutnya, selain dari persiapan tim dan durasi kontrak yang membengkak, pihaknya kini juga mengalami kesulitan untuk kembali meyakinkan para sponsor yang akan membantu tim MBU kedepannya. 

"Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama ada 2 pengumuman yang kami terima, pertama bahwasanya Liga 2 hanya diundur sebulan dan bergulir di awal Agustus, lalu baru kemarin juga sudah dirilis secara resmi bahwa kembali diundur ke awal September, tentu hal ini berdampak pada sponsor yang sangat membutuhkan kepastian kick off kompetisi guna pencairan dananya," bebernya.

Diakuinya, kerugian yang dialami MBU ditaksir dapat mencapai 2 Miliar lebih mengingat biaya untuk akomodasi dan konsumsi tetap berjalan seperti biasanya. 

"Cathering, penginapan tentu tidak bisa distop dan sebenarnya sudah kita perhitungkan sejak awal. Tetapi kini mau tidak mau ada penambahan waktu, kerugian bisa berkisar 2 Miliar lebih," terangnya.

Baca juga: Lalui Proses Panjang, Yu Hyun Koo Akhirnya Resmi Menjadi WNI

Baca juga: Nil Maizar Sebut Sudah Miliki Komposisi Terbaik Untuk Sriwijaya FC, Namun Bingung di Lini Belakang

Tidak hanya itu, manajemen MBU juga meminta ketegasan dari pihak operator liga maupun PSSI selaku otoritas tertinggi sepakbola di tanah air. 

"Harus ada panduan resmi bagi kita, regulasi yang mengatur bagaimana nantinya kondisi sepakbola dijalankan saat ini, sehingga baik manajemen klub ataupun pemain tidak ada yang dirugikan terkait hak dan kewajiban," jelasnya. 

Dirinya mencontohkan di musim lalu saat terjadi force majeur dan kompetisi ditunda/dihentikan, ada regulasi tegas yang mengatur besaran nilai gaji yang disepakati bersama. 

Staf khusus Bupati Musi Banyuasin Bidang Pemuda dan Olahraga ini mengaku pihaknya saat ini masih menggelar latihan seperti biasa, namun  telah membuka opsi untuk meliburkan tim kedepannya. 

"Tapi kami masih mencari formula terbaik, karena di akhir Juli ada kemungkinan MBU akan mengikuti turnamen pra musim yang akan diikuti sesama kontestan Liga 2. Namun kami masih wait and see, mengingat harus juga memperhatikan kondisi terkini di tanah air. Kita semua ingin sepakbola bergulir seperti biasanya, tetapi kita juga tidak boleh memaksakan diri dan tetap harus mengedepankan prokes serta mendukung program pemerintah dalam hal pencegahan, penanggulangan penyebaran Covid-19," pungkasnya. (fiz) 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved