Breaking News:

Perjalanan Mental, Spiritual Melawan Virus Corona

Meski telah menerapkan protokol Kesehatan dan telah mendapat vaksin, tetap saja virus corona adalah mahluk astral yang tidak kasat mata.

Editor: Vanda Rosetiati
DOKUMENTASI PRIBADI Adi Yanto (Penyintas Corona Virus Disease)
Adi Yanto (Penyintas Corona Virus Disease). 

Adi Yanto (Penyintas Corona Virus Disease)

Tulisan ini saya persembahkan kepada mereka yang sedang berjuang menghadapi Covid-19 untuk saling berbagi pengalaman serta ikhtibar bagi mereka yang masih abai akan himbauan pemerintah bahkan masih tidak percaya bahwa Corona benar ada.

---------------------------------------------------------------------------------------

Kabar penambahan kasus inveksi virus corona kian meningkat sejak Juni 2021. Dilansir dari laman resmi covid.19.go.id penambahan kasus per Selasa (22/6/21) mencapai 13. 668 kasus dengan total kasus mencapai 2.018.113. Faktanya, saya turut menyumbang data penambahan tersebut. Berawal dari sebuah perjalanan dinas ke Jakarta saya mulai merasakan gejala tidak normal di tubuh. Meski telah menerapkan protokol Kesehatan dan telah mendapat vaksin, tetap saja virus corona adalah mahluk astral yang tidak kasat mata. Dia tidak pernah memilih korbannya. Bahkan Christiano Lonardo, laki-laki yang disebut paling bugar di atas bumi saja pernah terpapar. Pelayan publik seperti saya memang dikategorikan pemerintah sebagai orang-orang yang rentan terpapar Covid-19 karena mesti beraktivitas bertemu dan melayani banyak orang.

Tenggorokan yang sakit, pegal dan linu serta demam mulai menyerang di hari ke dua pulang dari perjalanan itu. Puncaknya di malam Jum’at saya tidak bisa memejamkan mata. Pukul 02.00 WIB dini hari masih terjaga. Badan yang panas, kulit terasa terbakar namun dingin menggerogoti hingga ke tulang. Ibu yang malam itu kebetulan menginap di rumah turut terjaga. Diambilnya minyak kayu putih, ibu melumurkan minyak ke seluruh tubuh tapi rasa sakit tak kunjung hilang. Pukul 03.00 fajar, saya beranikan ambil wudhu. Dingin air wudhu membasahi tubuh. Saya bentangkan sejadah dua rakaat Sholat Tahajud ditambah Sholat Hajat ditunaikan seraya doa panjang tak henti dimunajatkan.

Hingga azan Subuh sakit tak kunjung hilang. Pagi hari nya saya putuskan untuk memeriksakan diri ke Dinas Kesehatan. Pagi itu mereka baru usai laksanakan apel. Kepala Dinas Kesehatan Iwan Setiawan tampak masih berdiri di depan pintu masuk utama. Saya utarakan maksud untuk di tes antigen. Tak lama petugas surveilans menyiapkan peralatan. Saya diperiksa dengan satu kali colokan di rongga hidung. Sakit memang. Air mata keluar seiring rongga hingga hidung yang nyeri.
“Wah ini reaktif. Ada dua garisnya” ujar Pak Mus petugas surveilans Dinkes OKI yang biasa melakukan tracing selama Pandemi Covid-19. Bisa jadi orang ini yang paling banyak mengambil sampel Covid-19 di Ogan Komering Ilir. “Biasa saja, jangan takut, saya sudah beberapa kali kena” ujarnya menguatkan. Selorohan pria tambun ini sedikit memberi motivikasi bagi saya orang yang baru saja di vonis terpapar Covid-19.

“Kalau Bapak berkenan kami akan lakukan tracking ke rumah, dan langsung tes PCR untuk meyakinkan” ujar Mus. Saya mengiyakan karena saya yakin dengan langkah yang tepat penularan Covid-19 klaster keluarga bisa dihindari. Tidak bisa dibayangkan betapa susahnya kami yang memiliki anak-anak yang masih kecil ditambah istri baru melahirkan dua pekan sebelumnya jika harus terpapar klaster keluarga.

Setiba di rumah istri dan ibu menyiapkan tempat karantina mandiri bagi saya. Pukul 09.00 pagi petugas dari Dinas kesehatan mendatangi rumah dengan tenang agar tak menimbulkan kecuriagaan tetangga. Satu per satu orang dirumah di tes antigen. Mulai dari istri, ibu hingga pengasuh anak. Alhamdulilah hasilnya semua negatif. Keadaan ini membuat saya lebih tenang karena tidak menularkan keanggota keluarga lain.

Hari itu Jum’at, saat kaum laki-laki muslim bersiap sholat Jum’at saya masih terguling lemah. Sekujur tubuh nyeri, persedian seperti terlepas dari ikatannya. Mulut pun mulai pahit. Saya rasakan indra perasa mulai abai. Hidung sudah tidak berfungsi sama sekali.

Pukul 13.00 Adik yang bekerja di salah satu rumah sakit terbaik di Kota Palembang meminta untuk langsung saja datang ke rumah sakit agar saya mendapat perawatan dan menghindari penularan ke anggota keluarga lain. Jarak Kayuagung-Palembang sekitar 30 Menit. Meski lewat tol tentu saya harus menyetir sendiri tidak mungkin se mobil dengan anak-anak atau meminta bantuan orang lain karena pada prinsipnya saya orang yang sungkanan meminta tolong kepada orang lain apa lagi di dalam tubuh telah ada penyakit yang mudah menular.

Dengan kepala pusing dan badan yang demam saya putuskan menyetir mobil sendiri. Untung saja lalu lintas sepi siang itu. Saya melaju dengan kecepatan rata-rata 60 hingga 80 Km per jam saja. Sesampai di rumah sakit saya diarahkan ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapat tindakan. Dengan berbekal kit hasil swab antigen dari Dinkes petugas rumah sakit melakukan tindakan medis.
Tentu tidak mudah bagi rumah sakit untuk mengambil keputusan pasien harus rawat atau cukup isolasi mandiri.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved