279 Juta Data Penduduk Indonesia Bocor, Dua Hal ini Disebut Sebagai Penyebab Terjadinya Kebocoran
279 Juta Data Penduduk Indonesia Bocor, Dua Hal ini Disebut Sebagai Penyebab Terjadinya Kebocoran
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Penduduk Indonesia kini tengah heboh.
Pasalnya, ada 279 juta data penduduk Indonesia disebut bocor.
Bahkan ratusan juta data itu sampai dijual di situs surface web Raid Forum.
Pakar dan Praktisi IT Julyanto Sutandang menilai kebocoran database memang beberapa kali terjadi, seperti tahun lalu pada kasus Tokopedia dan beberapa market place lain.
Menurutnya kebocoran data bisa terjadi karena adanya pengabaian terhadap dua hal.
"Intinya, kebocoran data seringkali terjadi karena pengabaian 2 hal, yaitu pelaksanaan prosedur secara baik (compliance) dan attitude dari SDM yang melaksanakan dari top sampai bottom, dalam hal ini terkait integritasnya juga," ujar Julyanto, kepada wartawan, Sabtu (22/5/2021).
Julyanto menjelaskan proteksi terbesar keamanan data tidak jauh berbeda dengan proteksi secara umumnya, yaitu menitikberatkan pada prosedur dan pelaksanannya, termasuk didalamnya adalah trust yang didukung oleh integritas personalnya.
"Apabila prosedur tidak comply, tentunya akan terjadi masalah. Sementara trust sangat terkait erat dengan attitude yang menjalankan," jelasnya.
Dia menyebut dampak terburuk bagi kebanyakan orang adalah data tersebut digunakan sebagai bahan penipuan. Sementara untuk organisasi yang mengalami kebocoran data, kemungkinan terburuk adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap organisasi tersebut.
"Seharusnya organisasi atau lembaga memiliki sistem yang sesuai dengan standar industrinya, ada compliancenya masing-masing: finance, telecom, govt, etc; melaksanakan operasional sesuai dengan standar operasinya; melakukan audit keamanan maupun audit tata laksana (management); termasuk melakukan recruitment maupun hiring vendor sesuai dengan compliancenya," ujarnya.
Baca juga: Manajemen Angkat Bicara Usai Buruh Mengancam Akan Memboikot Indomaret Mulai Pekan Depan
Baca juga: Gerhana Bulan Total Tanggal 26 Mei 2021, Berikut Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total Lengkap
Selain itu, Julyanto menilai memiliki konsultan dengan reputasi baik merupakan langkah yang amat disarankan. Singkatnya dengan memiliki prosedur yang teruji, dan memiliki sistem pengawasan yang baik sudah menyelesaikan 50 persen resiko, sementara 50 persen lainnya adalah attitude atau integritas pelaksananya.
Menurutnya, seaman apapun sistem dan teknologi yang diimplementasi tidak akan menjamin keamanan karena sistem tersebut masih harus dilaksanakan oleh manusia dan selalu dapat diinterupsi oleh manusia.
"Belum pernah ada didunia ini sebuah sistem yang dapat berjalan sendiri melaksanakan seluruh siklus hidupnya terlepas dari campur tangan manusia, sebab sistem apapun juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manusia disini termasuk pengguna sistem tersebut," kata dia.
Apabila terjadi kasus kebocoran data, Julyanto menyarankan organisasi atau institusi harus segera memberitahukannya kepada publik, apa yang terjadi dan apa yang sedang dilakukan, serta menjamin bahwa hal tersebut tidak akan terulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/heboh-data-279-juta-penduduk-indonesia-disebut-bocor-dijual-bebas-di-online-termasuk-info-gaji.jpg)