Breaking News:

Berita Lubuklinggau

Petani Cabai di Lubuklinggau Sumringah Karena Harga Tinggi, Kebun Dijaga Siang Malam

Saat ini para petani cabai di Kota Lubuklinggau Sumsel tengah sumringah karena harga cabai mengalami kenaikan signifikan beberapa bulan terakhir.

TRIBUNSUMSEL.COM/EKO
Para pekerja Suswanto saat memilih cabai kualitas baik di kebun miliknya di RT 05 Kelurahan Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Kota Lubuklinggau, Minggu (16/5/2021). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU - Saat ini para petani cabai di Kota Lubuklinggau Sumsel tengah sumringah karena harga cabai mengalami kenaikan signifikan beberapa bulan terakhir.

Suswanto petani cabai di RT 05 Kelurahan  Air Temam, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I mengaku kenaikan harga cabai saat ini sangatlah wajar, mengingat banyak petani yang gagal panen akibat cuaca yang tidak menentu.

"Alhamdulillah sekarang harga cabai sudah sebanding dengan upah pekerja di kebun," kata Suswanto pada wartawan, Minggu (16/5/2021).

Menurutnya, selama ini petani cabai mengalami masa suram akibat rendahnya harga cabai merah, kini dengan harga yang melambung tinggi mereka bisa menikmati hasil jerih payahnya.

"Untuk harga sekarang ditingkat petani satu kilogram dihargai tengkulak Rp 25 ribu, harga ini sudah cukup lumayan diuntungkan terutama untuk biaya perawatan dan biaya upah pekerja," ungkapnya.

Baca juga: Air Terjun Temam Lubuklinggau Dibuka Kembali, Pengunjung Dibatasi 200 Orang

Ia mengaku awal Ramadan lalu sempat khawatir takut merugi,  karena harga cabai sempat mengalami penurunan, bahkan ditingkat petani hanya dihargai tengkulak Rp 15 ribu per kilogram.

"Sempat was-was karena tidak sebanding dengan biaya dan upah pekerja, tapi perlahan-lahan kembali naik lagi dan bertahan sampai saat ini," Rujarnya.

Namun, kebahagiaan petani di kota ini karena harga tinggi mulai dihadapkan dengan kondisi cuaca yang mulai tak menentu, akibatnya banyak cabai yang busuk sebelum dipanen.

"Sekarang akibat cuaca banyak cabai busuk, mana seperti mau kemarau, sekarang saja kita mulai siap-siap melakukan penyiraman sebagai langkah antisipasi batang cabai mati mendadak karena panas," ujarnya.

Ia mengatakan, bila kondisi cuaca normal dengan curah hujan dan panas sedang, batang cabai dapat hidup normal hingga mencapai tiga bulan semenjak memasuki masa panen.

"Dalam seminggu biasanya kita tiga kali panen, namun karena jumlah pekerja terbatas panennya kita tiap hari, dalam hitungan sekali panen dengan luas tanah setengah hektare mampu menghasilkan Rp 600 Kg cabai," bebernya.

Baca juga: Istri Melarang Tapi Tetap Memaksa, Pencari Batu Tewas Terseret Arus Sungai Kelingi Lubuklinggau

Ia pun mengatakan meski berada dipertengahan perkampungan penduduk dan bersebelahan dengan kantor polisi, kebun cabai miliknya selalu dijaga selama 24 jam.

Penjagaan ini dilakukannya siang dan malam sebagai antisipasi untuk mencegah terjadinya aksi pencurian ditengah meroketnya harga cabai saat ini.

"Masih saya jaga pak, tiap malam saya tunggu, karena takut nanti dicuri, walau pun selama ini aman karena dekat kantor polisi," ujarnya

Penulis: Eko Hepronis
Editor: Yohanes Tri Nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved