Berita Palembang

Kolonel Laut (P) Filda Malari: Seorang TNI Angkatan Laut Lebih Ditentukan Tes Psikologinya

saya tahu bahwa ternyata angkatan laut ini adalah alutsita (alat utama sistem senjata) yang dikasih orang.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Palembang Kolonel Laut (P) Filda Malari, SE, CTMP. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ketika seseorang memutuskan menjadi perwira ada beberapa sumber yang bisa ditempuh, pertama dariAkademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri), Akademi Angkatan Laut (AAL). Lalu bisa juga dari sarjana.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Palembang Kolonel Laut (P) Filda Malari, SE., CTMP mengatakan, ketika masuk, seorang kandidat akan dites sesuai hasil psikologinya. Nanti ada yang masuk korps pelaut, teknik, elektro, administrasi, dan marinir.

"Kalau saya kebetulan dari 215 orang yang masuk korps pelaut, biasanya jadi komandan kapal atau komandan pangkalan. Tapi tidak menuntut kemungkinan dari yang lain," kata Kolonel Laut (P) Filda Malari, Jumat (23/4/2021).

Menurutnya, pada saat mendaftar Akabri ia tidak memilih untuk menjadi angkatan laut, atau akademi militer tapi hasil psikotesnya lah yang menjurus ke angkatan laut.

"Awalnya saya juga nggak tahu. Tetapi setelah dalam penugasan dan berbagai pengalaman akhirnya saya tahu bahwa ternyata angkatan laut ini adalah alutsita (alat utama sistem senjata) yang dikasih orang. Berbedaan dengan angkatan darat, orang yang dikasih senjata," ceritanya.

Menurutnya, kalau angkatan laut senjata yang dikasih orang. Kapal dikasih orang, kalau angkatan darat orang dikasih senjata. Jadi orang-orang yang masuk angkatan laut ini, orang-orang yang harus cepat menguasi alutsita atau teknologi. Bukan tipikal rambo atau bekerja sendiri, melainkan harus teamwork.

"Seorang TNI Angkatan Laut Lebih ditentukan pada psikologinya. Jadi lebih pada teamwork yang sangat kuat.
Orang yang dinas di kapal-kapal selam memiliki pisikologi yang berbeda-beda," cetusnya.

Contohnya harus memiliki mental yang kuat, harus bisa kerjasama dalam teamwork yang kecil. Makanya nggak banyak. Untuk itu yang dinas di kapal selam ini punya kualifikasi atau pisikologi yang berbeda. Makanya tidak gampang untuk bisa bergabung jadi awak kapal selam.

"Kalau saya kapal atas air, ketika kita lulus pertamanya ditempatkan sesuai dengan surat perintah. Kebetulan saya ditempatkan di KRI Ahmad Yani, kapal Ahmad Yani ini salah satu kapal buatan Belanda jenis filget," katanya.

Menurutnya, kapal atas air juga dibagi dua yaitu perwira peranan permukaan dan perwira peranan bawah air. Kapal atas air untuk melawan kapal permukaan dan kapal selam.

"Jadi kapal selam itu juga bakal calon musuh kita. Makanya di kapal atas air pun, perwira devisi bawah air dan atas air," kata Kolonel Laut (P) Filda Malari yang jago bahasa Inggris.

Menurut pria yang jago ngedance ini, walaupun di kapal atas air juga belajar tentang bagaimana menghadapi ancaman dibawah air seperti kapal selam. Yang kapal selam juga begitu belajar menghadapi kapal permukaan.

"Menjadi seorang perwira atau awak kapal selam itu tentunya menjadi suatu kebanggaan, karena kapal selam merupakan musuh yang sangat ditakuti. Dimana pun bahwa kapal selam ini senjata strategis, jadi pergerakannya pun tidak diketahui," ungkapnya.

Jadi bergerak secara silent dan benar-benar suatu kebanggaan bisa menjadi awak kapal selam. Hanya permasalahannya dengan luas Indonesia yang 7,8 juta km, untuk mengcover wilayah Indonesia itu bukanlah suatu hal yang mudah.

Ikuti Kami di Google Klik

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved