Kisah Ramadan Penuh Hikmah

Sering Dipanggil Preman Insyaf, Ustaz Tori Pilih Taubat Setelah Mimpi Kiamat

Tori membeberkan sebelum aktif berdakwah seperti sekarang, dulunya dia sempat salah jalan seperti berkelahi sampai masuk penjara

Penulis: Melisa Wulandari | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/MELISA WULANDARI
Hasil tangkapan layar Ustaz Tori bersama Manajer Liputan Sripo Tribun Ray Happyeni di program live talk dengan tema Ridho Allah untuk Semua, Jumat (16/4/2021). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ustaz Muhammad Tori sering dipanggil orang orang dengan sebutan preman insyaf. Walau malu dengan sebutan tersebut dia tak bisa memungkiri karena masa lalunya yang kelam membuat orang memanggilnya dengan sebutan tersebut.

"Ya sering dipanggil preman insyaf, saya juga malu dipanggil begitu tapi apa boleh buat memang faktanya begitu. Saya memang memilih jalan taubat dan sekarang sibuk berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala," kata Tori saat hadir di program live talk yang disiarkan langsung melalui Youtube Tribun Sumsel dan SripokuTV, Jumat (16/2021).

Dia menceritakan titik balik dirinya hingga memilih bertaubat, yakni dia pernah bermimpi dunia kiamat. "Saya dulu pernah kerja jadi keamanan bantu orangtua, terus suatu ketika saya sempat ketiduran kemudian bermimpi," jelasnya.

"Mimpi saya itu sangat luar biasa yakni mimpi dunia ini akan terjadi kiamat, di dunia ini tidak ada lagi pintu taubat dan sudah tertutup dari Allah. Kebangun lah saya, pas bangun badan saya dingin keluar keringat jagung. Merinding bagaimana kalau terjadi sekarang pada saat itu berpikir untuk langsung berbenah diri," ujarnya.

Tori membeberkan sebelum aktif berdakwah seperti sekarang, dulunya dia sempat salah jalan seperti berkelahi sampai masuk penjara bahkan mengkonsumsi narkoba.

"Saya akui hal ini karena pengaruh lingkungan, dulu waktu di bangku kelas 1 SMA diajak teman mengenal dunia malam hingga akhirnya mengenal narkoba. Waktu itu saya diajak nyimeng atau ngerokok ganja," katanya.

Dia bersama 4 atau 5 teman lainnya mencari tempat khusus untuk menghisap ganja bersama sama.
"Reaksinya emang luar biasa, makan agak enak waktu itu," bebernya kepada penonton program live talk.

"Memang pengaruh teman pada saat saya remaja itu sangat besar. Tapi tidak bisa menyalahkan teman juga, karena saya mau kan dulu. Kemudian pernah juga diajak teman ke pesta ulang tahun di suatu kafe dan dikasih ekstasi," ujar Tori.

Setelah mengenal ganja, Tori kemudian mengenal ekstasi dan mencoba pil setan ini. "Waktu itu dikasih setengah potong, dan reaksinya langsung karena kan di kafe itu ada musik," katanya.

Mengenal dunia malam dan narkoba diusia yang sangat muda, membuat pria yang saat bicara menggunakan logat khas Palembang ini sempat putus sekolah.

"Orang ikut ujian saya malah gak ikut, jadi putus sekolah pas kelas 1 SMA gak melanjut lagi karena itu tadi (tidak ikut ujian). Penyebab saya tidak ikut ujian itu di luar sekolah saya sering buat onar," kata mantan keamanan ini.

Keonaran yang dia buat tidak hanya di lingkungan luar sekolah namun di lingkungan sekolah dirinya selalu mencari masalah.

"Ya saya dulu sering buat onar, sampai kenal sabu sabu juga. Kalau dulu sabu sabu masih tabu di kalangan masyarakat biasa tapi yang tahu dulu hanya kalangan elit saja," ujar Tori.

Baca juga: Tips Aman dan Nyaman Mengemudi Mobil Sambil Tetap Puasa di Bulan Ramadan

Baca juga: Jadwal Layanan RSUD Siti Fatimah Palembang Selama Ramadan 1442 H

Lebih lanjut Ustaz Tori menuturkan hampir setiap diskotik di Palembang sudah dia masuki, suatu masa dimana ada momen yang tidak bisa dia lupakan.

"Masib teringat jelas sampai sekarang, dulu saya pernah ngajak teman naik motor Vespa ramai ramai dan tiba tiba jatuh dari motor, waktu itu Alhamdulillah gak ada mobil yang lewat coba kalau ada," kata anak dari mantan preman Palembang ini.

Tori juga sempat merasakan dinginnya penjara Polsek Makrayu Palembang. "Saya pernah berantem baku hantam sampai masuk penjara Polsek Makrayu, kurang lebih 1 minggu saya masuk bui. Alhamdulillah masalah selesai dengan jalan perdamaian," jelasnya.

"Intinya perkara hidayah itu serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tapi tetap mengajak kepada kebaikan. Hidayah diberikan kepada orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki," tutupnya.

Ikuti Kami di Google Klik

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved