Berita Palembang

Pengaruh Harga Minyak Mentah Dunia Terhadap Harga Karet Sumsel, Ini Penjelasannya

Harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mengalami penurunan. Harga karet dipengaruhi Harga Minyak Mentah Dunia, Berikut penjelasannya.

tribunsumsel.com/khoiril
Ilustrasi Indeks Harga Karet. Di awal Ramadan, harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen masih mengalami penurunan 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Di awal Ramadan, harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel) untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen hingga 40 persen masih mengalami penurunan

"Indikasi harga karet hari ini turun Rp 601 per kg dibandingkan indikasi karet hari Senin 12 April untuk KKK 100 persen," kata Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Rudi Arpian MSi, Selasa (13/4/2021).

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen pada 12 April 2021 Rp 20.117 per kg.

Sedangkan harga karet hari ini, Selasa (13/4/2021) untuk KKK 100 persennya di harga Rp 19.516 per kg, artinya ada penurunan Rp 601 per kg dibandingkan harga hari Senin.

Baca juga: Terdesak Ekonomi, Novri Yadi Nekat Antarkan Sabu ke Tahanan Polda Sumsel, Diselipkan di Roti Tawar

Lalu untuk KKK 70 persen diharga 13.661 per kg, KKK 60 persen diharga Rp 11.710 per kg, KKK 50 persen diharga Rp 9.758 per kg, dan KKK 40 persen diharga Rp 7.806 per kg.

"Harga karet di Provinsi Sumsel sejak tanggal 9 April 2021 sampai tanggal 13 April terus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang terus menurun, akibat tekanan posisi dolar yang terus menguat," kata Rudi.

Menurutnya, sebagaimana diketahui minyak mentah merupakan bahan pembuatan karet sintetis. Harga karet yang diperdagangkan bursa Tocom dan Sicom terus anjlok cukup sinifikan hingga turun keposisi terendah 6 bulan untuk bursa SHFE. 

"Hal ini diakibatkan kehawatiran pasar terhadap menurunnya permintaan dari negara konsumen terbesar kedua pasca lonjakan kasus baru virus corona di India," ungkapnya.

Harapannya, kekurangan pasokan dan makin menurunnya produksi di negara negara penghasil karet dunia akibat musim gugur daun dapat menahan lajunya penurunan harga karet kedepan.

Rudi menjelaskan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS. Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban. Kemudian faktor cuaca dan hama penyakit.

Baca juga: Golkar Ancang- ancang Majukan Dodi Sebagai Cagub Sumsel, Ini Alasan Sejumlah DPD

Rudi pun memberikan tips agar kadar karet kering ditingkat petani lebih maksimal caranya yaitu pakai bahan pembeku yang dianjurkan dan harus seragam. Bisa pakai Specta, Asap Cair atau Deorub.

Lalu umur bahan olah karet rakyat (Bokar) harus sama, misal kalau umur seminggu dijual seragam umur seminggu. Jangan dicampur dengan Bokar yang ber umur 2 atau 3 hari.

Kemudian, tidak boleh direndam dan dicampur dengan bahan bukan karet, makin cepat ditumpahkan dari bak pembeku makin tinggi KKK nya.

"Karet KKK 100 persen ditingkat petani tidak ada dan tidak bisa, hanya olahan pabrik yang bisa sampai KKK 100 persen. Sedangkan karet bulanan di tingkat petani berkisar di KKK 65-70 persen," katanya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved