Breaking News:

Berita Video Terbaru

Video Uang Tabungan Rp 12 Ribu Hilang, Guru dan Kepsek Bakar Tangan 10 Muridnya

Demi mencari pelaku yang mengambil uang tabungan Rp 12,500, guru dan kepala sekolah menyulut api di tangan 10 murid agar mengaku.

TRIBUNSUMSEL.COM - Aksi yang dilakukan oleh seorang guru dan kepala sekolah ini benar-benar diluar nalar.

Demi mencari pelaku yang mengambil uang tabungan Rp 12,500, guru dan kepala sekolah menyulut api di tangan 10 murid agar mengaku.

Seorang guru dan kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, diduga melakukan kekerasan terhadap 10 siswanya.

Guru dan kepala sekolah itu diduga menyulut tangan 10 siswanya dengan korek api gas.

Kapolsek Gucialit Iptu Joko Try menjelaskan kronologi kasus dugaan kekerasan itu terjadi.

Uang tabungan hilang saat istirahat Tindakan itu bermula ketika uang tabungan siswa kelas 4 senilai Rp 12.500 hilang pada Jumat (26/3/2021).

Uang itu merupakan tabungan 12 siswa di kelas tersebut.

Saat jam istirahat, uang tabungan itu ditinggalkan di atas meja.

Namun, guru yang juga wali kelas 4 berinisial SMu (24) tak menemukan uang tersebut saat kembali ke ruangan.

SMu lalu bertanya tentang uang tersebut kepada pada siswa. Namun, tak ada yang mengaku mengambil uang tersebut.

Joko menjelaskan, ada 10 siswa yang disulut tangannya dengan korek api. Namun, 10 siswa itu mengaku tak mengambil uang tersebut.

Smu lalu melaporkan hal itu kepada kepala sekolah yang berinisial SMa (45).

Kepala sekolah memanggil tiga dari 10 siswa tersebut.

Saat bertemu kepala sekolah, telapak tangan ketiga siswa itu disulut lagi dengan korek api.

Tindakan itu membuat tangan mereka melepuh.

Guru dan kepala sekolah meminta maaf kepada orangtua siswa setelah dimediasi kepala desa setempat. Saat itu, kasus itu dianggap selesai.

Namun, sebagian orangtua siswa melaporkan guru dan kepala sekolah ke polisi pada Rabu (31/3/2021).

Mereka menuntut guru dan kepala sekolah itu diberhentikan akibat kasus tersebut.

Setelah menerima laporan, polisi berkoordinasi dengan musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) dan kantor perwakilan Kementerian Agama.

Guru berinisial SMu dipecat dari sekolah dan SMa diberhentikan sebagai kepala sekolah terhitung Kamis (1/4/2021).

Mereka pun diperiksa polisi pada Senin (5/4/2021). Pada Selasa (6/4/2021), polisi memediasi kasus tersebut. Menurut Joko, seluruh pihak sepakat tak melanjutkan kasus itu ke ranah hukum.

Editor: Euis Ratna Sari
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved