Akhirnya Wapres Ma'ruf Amin Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac, Ini Alasannya

Akhirnya Wapres Ma'ruf Amin Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac, Ini Alasannya

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Wakil Presiden Ma'ruf Amin menerima karikatur dari News Director Tribun Network Febby Mahendra Putra usai diwawancarai oleh Tribunnews.com di Rumah Dinas Wapres di Jakarta, Kamis (9/7/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM - Akhirnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin disuntik vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh Sinovac menyusul diterbitkannya izin penggunaan darurat (emergency use of authorization) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk para lanjut usia.

Dikutip dari siaran pers, rencananya Wapres Ma’ruf Amin divaksin pada Rabu (17/2/2021), pukul 08.30 pagi, di Pendopo Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta.

"Keikutsertaan Wapres yang telah berusia 77 tahun dalam program vaksinasi ini diharapkan dapat memberikan contoh nyata uji klinis keamanan penggunaan vaksin kepada lansia bagi masyarakat luas," demikian bunyi siaran pers tersebut.

Pada 5 Februari 2021, BPOM mengeluarkan persetujuan penggunaan emergency use of authorization (EUA) vaksin Covid-19 untuk usia di atas 60 tahun.

Menurut Kepala BPOM Penny Lukito, kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan banyaknya korban meninggal terinfeksi virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19 pada kelompok usia tersebut.

Data statistik Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonoi Nasional (KPC-PEN) menunjukkan, angka kematian akibat Covid-19 pada kelompok usia lanjut atau lansia menduduki porsi cukup tinggi, yaitu sekitar 47,3 persen. 

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, persentase lansia yang terpapar Covid-19 di Indonesia sejumlah 10 persen.

Namun, total yang meninggal karena Covid-19 mencapai angka 50 persen. Hal tersebut menunjukkan risiko besar bagi para lansia dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Karena berbasis risiko, kalau tenaga kesehatan risikonya tinggi karena sering dan banyak terekspos virus. Kalau lansia didahulukan karena risikonya tinggi, kalau terkena, kemungkinan fatalnya besar,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Artikel ini telah tayang di Kompas

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved