Fakta Terbaru Kasus Tewasnya 6 Laskar FPI, Polisi Mengakui Ambil CCTV di Rest Area KM 50
Ketua Tim Penyelidikan M Choirul Anam mengungkapkan, pihaknya memperoleh informasi soal pengambilan kamera CCTV dari salah satu warung di rest area
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA-Polisi ternyata mengambil kamera CCTV dari sebuah warung di rest area KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.
Informasi ini diperoleh Komnas HAM yang sedang menyelidiki kasus tewasnya enam Laskar Front Pembela Islam (FPI).
Ketua Tim Penyelidikan M Choirul Anam mengungkapkan, pihaknya memperoleh informasi soal pengambilan kamera CCTV dari salah satu warung di rest area KM 50 tersebut.
Komnas HAM pun menanyakan hal ini kepada pihak kepolisian.
“Kami konfirmasi di terakhir-terakhir kami melakukan pemeriksaan terhadap pihak kepolisian dan itu diakui itu (kamera CCTV) diambil,” kata Anam dalam konferensi pers, Jumat (8/1/2021).
Baca juga: Pemilu SerentakNasional Digeser 2027, Ini Respon KPU Sumsel
Kepada Komnas HAM, polisi mengaku mengambil kamera CCTV tersebut secara legal.
“Sehingga nanti kita tunggu kalau ini menjadi pembuktian di proses pengadilan,” ucap dia.
Dalam kasus ini, enam anggota laskar FPI tewas ditembak anggota Polda Metro Jaya setelah diduga menyerang polisi pada 7 Desember 2020 dini hari.
Di KM 50, Komnas HAM mengungkapkan bahwa dua anggota laskar FPI ditemukan meninggal setelah sebelumnya terjadi kontak tembak.
Sementara itu, di lokasi yang sama, empat anggota lainnya masih hidup dan dibawa oleh anggota kepolisian.
Anam menyebut, pihaknya juga menemukan informasi lain di lokasi tersebut.
“Di KM 50, terdapat pula informasi adanya kekerasan, pembersihan darah, pemberitahuan bahwa ini kasus narkoba dan terorisme, pengambilan CCTV di salah satu warung dan perintah penghapusan dan pemeriksaan HP masyarakat di sana,” ujar Anam.
Baca juga: Komnas HAM Rilis Kasus, Sebut Penembakan 4 Laskar FPI Sebagai Pelanggaran HAM, Tunjukkan Bukti
Adapun dalam rekonstruksi pada Senin (14/12/2020) dini hari, polisi menggambarkan bahwa anggota laskar FPI yang terlebih dahulu menyerang dan menembak polisi saat kejadian.
Polisi mengatakan, hasil rekonstruksi belum final.
Tak menutup kemungkinan dilakukan rekonstruksi lanjutan apabila ada temuan baru.
Ada perbedaan keterangan antara polisi dan pihak FPI atas kejadian tersebut.
Pihak FPI sebelumnya telah membantah anggota laskar menyerang dan menembak polisi terlebih dahulu.
Menurut FPI, anggota laskar tidak dilengkapi senjata api.