Kisah dr Sherly Ikut Berjuang di Garda Terdepan Lawan Covid-19

Baru saja menyelesaikan pendidikan dokter dan melanjutkan internship di RS Siti Aisyah Lubuk Linggau.

Tribunsumsel.com/moch krisna
dr Sherly saat bercerita pengalamannya 

TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG -- 7 bulan lebih jadi garda terdepan melawan covid-19 melanda Indonesia.

Menjadi pengalaman tak terlupakan yang dirasakan dr. Sherly.
Baru saja menyelesaikan pendidikan dokter dan melanjutkan internship di RS Siti Aisyah Lubuk Linggau.
Mulai masuk di awal november 2019, dr Sherly langsung dihadapkan dengan pandemi covid-19 lima bulan kemudian.
Sebuah pandemi baru yang menggemparkan dunia kesehatan.
Apalagi ditambah bagaimana mengerikannya gejala ditimbulkan hingga berujung kematian
Ditambah belum adanya vaksin yang mampu mengatasi virus ini kala itu makin menambah kengeriannya.
Tak dipungkiri dr Sherly, jika didalam hatinya sempat timbul rasa kekhawatiran.
Pelayanan kesehatan harus dilakukan secara ketat dan aman.
Setiap tenaga medis, dalam hal ini dokter dan perawat wajib menggunakan alat pelindung diri (APD).
Pakaian mirip astronot yang dipakai untuk mencegah penularan virus.
" Kurang lebih 8 Jam pakai APD, masker dipakai dua lapis, bayangkan bagaimana susahnya bernafas dan panasnya memicu tubuh mandi keringat," ujar dr Sherly saat menceritakan pengalamannya, Minggu (22/11).
Tak hanya itu, ketika sudah bertugas untuk makan dan sekedar buang air kecil pun susah.
"Selesai dinas semua pakaian APD dilepas, cuci tangan, mandi dan ganti dengan pakaian bersih," ungkapnya.
Selama bertugas, dr Sherly mengatakan dirinya ditempatkan di instalasi gawat darurat (IGD). Disini dirinya kerap kali berjumpa pasien dengan gejala gejala covid-19.
" Kalau ketemu pasien yang terkonfirmasi covid-19, maka dilakukan tindakan sesuai dengan SOP yang ada,"jelasnya.
Sayangnya, ada kala keluarga pasien yang tak terima ketika keluarganya terkonfirmasi positif setelah di swab.
" Kadang ada yang tak terima, dan ada juga yang shock. Di sinilah sebagai dokter memberikan penjelasan untuk membuat pasien tenang," ungkapnya.
Memiliki resiko tinggi untuk tertular, tak membuat dr Sherly takut.Namun yang sangat membuat khawatir lantaran keluarga.
" Was-wasnya saat pulang kerumah dan berjumpa dengan keluarga. jika OTG dan bawa virus kerumah maka keselamatan keluarga terancam," ujarnya.
Untungnya, setiap pulang dirinya bersama rekan tenaga medis lain harus menjalankan pemeriksaan swab test.
Ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada tenaga medis yang tertular atau tidak.
"Alhamdulilah setiap swab hasilnya negatif," cetusnya.
Setelah menyelesaikan kegiatan internship, dr Sherly kini menjalain aktivitas di salah satu klinik di Palembang.
Kendati tak lagi di RS, Ia tetap mengingatkan sekaligus sosialisasi kepada para pasiennya soal protokol kesehatan (Prokes).
"Pasien saya selalu ingatkan pentingnya pakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan," tuturnya.
Melihat kini pertambahan positif covid-19 yang masih cukup tinggi di Palembang.
Membuat dr Sherly prihatin, lantaran masyarakat masih acuh tak acuh.
Padahal pemerintah kota hingga provinsi dan pusat telah memberikan kebijakan untuk menjalankan prokes.
" Tentunya kita harus menerapkan betul prokes kesehatan 3M untuk memutud rantai penyebaran virus covid-19," tuturnya.
dr Sherly berharap kedepannya pandemi covid-19 cepat berakhir dan kehidupan bisa berjalan normal kembali.
" Maka dari itu, sekali lagi kita masyarakat harus disiplin menjalankan prokes, kalau bukan kita siapa lagi, ingat pesan ibu 3M," pungkasnya.
 
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved