Karena Masalah Investasi, Ustaz Yusuf Mansur Terancam Dilaporkan Secara Pidana
Sekiranya ada 10 orang investor yang berniat melaporkan Yusuf Mansur. Mereka menduga adanya dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, dan pelanggara
Ia adalah seorang yang multi talenta; pendakwah, motivator, penulis buku, pengusaha, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Cikarang Tangerang dan pengajian Wisata Hati.
Sebelum sampai diposisi seperti sekarang, terutama kontribusinya pada ratusan Pesantren Daarul Quran yang dirintisnya di berbagai wilayah di Indonesia; menyekolahkan dan mentahfidkan ribuan santri dlu'afa dengan program wali asuhnya; membangun bisnis dan perekonomian umat; diantaranya PayTren, yang merupakan perusahaan penyedia finansial berbasis syariah dan teknologi yang dibawah perusahaan PT Veritra Sentosa International.
Serta yang sempat mencengangkan saat ia mengumumkan membeli 10 persen saham klub Polandia, Lechia Gdansk, senilai Rp 42 miliar dengan perusahaan Fintek Groupnya.
Ustad Yusuf Mansur menambah daftar pengusaha Indonesia yang mempunyai saham di klub-klub olahraga di Eropa dan lainnya yang bertindak pada pemberdayaan ummat.
Ustad Mansur ternyata sejak belia sudah sarat dengan prestasi.
Sebelum dikenal sebagai pendakwah kondang, bahkan LSI (2019) merilis namanya masuk dalam lima besar, sebagai pendakwah yang paling dinanti umat islam di Indonesia. Jejak prestasinya mula-mula sudah ditorekan sejak usia 9 tahun.
Saat itu beliau masih kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah), tetapi ia sudah kerap tampil di atas mimbar untuk berpidato pada acara Ihtifal Madrasah yang diselenggarakan setiap tahun menjelang Ramadan.
Saat tamat MI, ia kemudian melanjutkan ke MTs (Madrasah Tsanawiyah) Chairiyah Mansuriyah yaitu lembaga pendidikan yang dikelola keluarganya sendiri, KH. Achmadi Muhammad, kakak dari ayahnya.
Saat itu, Yusuf Mansur adalah siswa paling muda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Ia pun lulus dari MTs. Chairiyah Mansuriyah tahun pada tahun 1988/1989 sebagai siswa terbaik di usia 14 tahun. Lulus dari MTs.
Chairiyah Mansuriyah, ia kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol sebagai lulusan terbaik. Lulusan Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah kuliah di Fakultas Hukum, Jurusan Syari'ah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Namun, kuliahnya terpaksa berhenti di tengah jalan karena ia mengaku lebih suka balapan motor dan belajar bisnis.
Mungkin tak banyak yang tahu, latar belakang pendidikannya sejak usia belia hingga remaja, yaitu saat di bangku MI dan di MTS itu adalah pendidikan berkultur Nahdliyin khas Betawi.
Maka tidak mengherankan, kalau ia sejak remaja sudah sangat akrab dengan kitab kuning.
Sebab dari kecil ia sudah terbiasa hidup sebagai santri di lingkungan keluarganya sendiri.