Berita Viral
Suami Minum 1 Obat Sebelum Berhubungan Badan Bikin Istri Hampir Tewas, Dokter Syok Ungkap Fakta Ini
Minum satu obat sebelum berhubungan badan, pria ini nyaris bikin istrinya meninggal dunia.Dokter syok saat periksa kondisi wanita dalam kisah yang v
TRIBUNSUMSEL.COM -- Minum satu obat sebelum berhubungan badan, pria ini nyaris bikin istrinya meninggal dunia.
Dokter syok saat periksa kondisi wanita dalam kisah yang viral ini.
Pasalnya, kondisi si wanita berbeda dari apa yang ia pikirkan sebelumnya.

Melansir Independent, kasus ini diterbitkan dalam American Journal of Medicine dengan judul "Hampir dibunuh oleh cinta: A Cautionary Coital Tale."
Dikutip dari Intisari ( grup TribunJatim.com ), dalam jurnal tersebut wanita dari Baltimore Amerika Serikat menderita alergi terhadap air mani suaminya.
Ternyata wanita ini sebenarnya juga menderita reaksi anafilaksis terhadap antibiotik.
Reaksi anafilaksis pada dasarnya adalah reaksi alergi yang sangat serius yang berkembang sangat cepat dan dengan cepat bisa menyebabkan kematian.
Penyebab awalnya ternyata adalah suaminya minum antibiotik sebelum berhubungan badan.
Menyebabkan air mani suaminya terkonsentrasi dengan nafcillin yang memicu reaksi alergi dari wanita itu.
Tak lama setelah berhubungan badan, wanita itu mulai mengalami pusing, diare, tangan dan kaki gatal serta berkeringat parah.
Dia segera dibawa ke rumah sakit untuk perawatan di mana dokter mengira dia menderita sepsis karena tekanan darahnya rendah.
Kemudian dia diberi infus dan antibiotik.
Namun, setelah melakukan pemeriksaan lanjutan, dokter syok.
Pasalnya, hasil tes menunjukkan wanita ini syok anafilaksis.
Wanita itu memiliki riwayat alergi penisilin sejak kecil dan diketahui bahwa suaminya mencoba mengobati infeksi bakteri dengan antibiotik yang disebut nafcilling dan mengandung penisillin.
Setelah perawatan, tekanan darahnya mulai normal dan kondisinya mulai membaik.
Wanita itu keluar dari rumah sakit dan diberitahu untuk tidak melakukan hubungan intim dengan suaminya setidaknya setelah 1 minggu dia minum antibiotik.
Penulis laporan mengatakan bahwa tulisan ini adalah ketiga kalinya mendapat penolakan tersebut untuk mendokumentasikan dalam jurnal medis.
Tetapi mereka kemudian menyarankannya menulis resep untuk "mempertimbangkan bahaya reaksi alergi dan efek samping yang merugikan, tidak hanya untuk pasien tetapi juga untuk keluarga pasien."
Penulis: Ani Susanti
Editor: Sudarma Adi