Wisata dan Kuliner

Jual Mobil Hingga Hotel, Cara Pengusaha Pariwisata Sumsel Bertahan di Tengah Pandemi Corona

Beberapa diantara pelaku usaha pariwisata itu bahkan susah beralih profesi dari semula menjual paket wisata menjadi menjual alat kesehatan

Penulis: Hartati | Editor: Wawan Perdana
YouTube Tribun Sumsel
Ketua Asita Sumsel, Anton Wahyudi saat menjadi narasumber Live Talk Sumsel Virtual Fest yang digelar Tribun Sumsel dan Sripo, Rabu (30/9/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Usaha pariwisata merasakan dampak luar biasa dari penyebaran Virus Corona (Covid-19).

Di Sumsel, pelaku usaha pariwisata berjuang keras untuk terus bertahan.

"Saat ini pelaku usaha pariwisata sudah mulai menjual asetnya agar bisa bertahan karena dana tabungan juga sudah habis sehingga aset berupa mobil atau hotel mulai dijual agar bisa bertahan hingga covid berlalu," ujar Ketua Asita Sumsel, Anton Wahyudi saat menjadi narasumber Live Talk Sumsel Virtual Fest yang digelar Tribun Sumsel dan Sripo, Rabu (30/9/2020).

Anton berharap pandemi ini segera berlalu sehingga sektor pariwisata dan sektor lainnya bisa kembali bangkit karena dampak pandemi ini sangat memukul perekonomian.

Pelaku pariwisata juga sudah bertahan dengan segala cara agar tetap bisa "makan".

Sejak Maret hingga kini tidak ada satupun paket wisata dalam dan luar negeri yang bisa dijual.

Tiga Dampak Besar Jika Kompetisi Sepakbola di Indonesia Dihentikan

Beberapa diantara pelaku usaha pariwisata itu bahkan sudah beralih profesi dari semula menjual paket wisata menjadi menjual alat kesehatan berupa masker.

Ada juga yang merambah dunia kuliner dengan berjualan pempek atau kerupuk kemplang karena minimnya penerbangan dari dan menuju Palembang karena dampak covid-19.

"Dulu saat kondisi normal penerbangan dari dan menuju Palembang bisa mencapai 60 penebangan per hari tapi kini sejak pandemi dan beberapa daerah menerpkan PSBB, penerangan dari dan ke Palembang maksimal 10 penerbangan dengan mayoritas tujuan Jakarta," jelasnya.

Pandemi Covid-19 yang masih melanda tanah air membuat pelaku pariwisata berpikir keras bagaimana bisa memperhatikan bisnis di tengah kesulitan ini salah satunya dengan menyelenggarakan pariwisata digital.

Anton mengatakan, sudah beberapa kali menggelar pariwisata digital bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Palembang menjual wisata virtual Taman Pemakaman Kerajaan Sriwijaya (TPKS) dan juga Lawang kidul.

Pariwisata digital ini merupakan langkah awal mengenalkan real wisata sehingga diharapakan setelah pandemi usai wisatawan bisa merasakan langsung wisata virtual tersebut bukan cuma secara visual tapi juga secara nyata. Merasakan sensasi wisatanya secara langsung.

Disnaker Sumsel Lihat Keseriusan dan Kepatuhan 135 Badan Usaha Dalam Kepersertaan Program JKN-KIS

Sementara itu Direktur Politeknik Pariwisata Palembang, Zulkifli Harahap mengatakan, pariwista digital menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan mempromosikan wisata saat ini karena untuk wisata real belum bisa maksimal.

Hanya saja pariwista digital tidak bisa mengaji skema sensasi langsung wisatanya misalnya bermain air terjun, menikmati kuliner dan lainnya karena hanya bisa disaksikan secara virtual.

"Pariwista digital ini bisa menjadi alternatif wisata sehingga saat pandemi usai wisatanya bisa merasakan langsung sensasi wisata digital yang sudah mereka saksikan dan mereka sudah punya referensi wisata mana saja yang akan dikunjungi nantinya," ujarnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved