Berita Viral
Asal-usul Virus Corona Terungkap Lewat Dua Skenario Ini, Ternyata 2 Hewan Ini Jadi 'Tersangkanya'
Sejak bulan-bulan awal virus corona menyebar di kawasan Wuhan, China hingga hari ini, muncul banyak dugaan terkait asal-usul virus corona.
TRIBUNSUMSEL.COM -- Sejak bulan-bulan awal virus corona menyebar di kawasan Wuhan, China hingga hari ini, muncul banyak dugaan terkait asal-usul virus corona.
Ada yang menyebutnya sebagai hasil rekayasa genetika yang dilakukan oleh China namun mengalami kebocoran hingga menyerang warganya sendiri.
Ada pula yang menuduh Amerika Serikat sebagai biang keladi dari virus corona yang menjadikannya sebagai senjata biologis untuk menghancurkan China.
Namun, sebuah penelitian terbaru secara jelas membantah dua skenario di atas.
Ya, para ilmuwan di seluruh dunia mencoba membuktikan asal-usul virus corona, SARS-CoV-2 yang diklaim berasal dari rekayasa genetika.
Namun, studi yang dilakukan membuktikan virus penyebab penyakit Covid-19 ini berasal dari epidemi alami.
Kristian Andersen, PhD seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, melakukan penelitian gabungan bersama sejumlah peneliti dari berbagai lembaga.
Melansir Science Daily, Rabu (18/3/2020), berdasarkan analisis sekuensing genomik mereka, Andersen dan timnya menyimpulkan kemungkinan asal SARS-CoV-2 mengikuti salah satu dari dua skenario yang mungkin terjadi.i
Skenario pertama, yakni virus berevolusi di keadaan patogen saat ini melalui seleksi alam di inang non-manusia, kemudian melompat ke manusia.
Pada skenario ini menunjukkan bagaimana wabah virus corona sebelumnya muncul, dengan transmisi penularan manusia dari musang (SARS) dan unta (MERS).
Para peneliti mengusulkan kelelawar sebagai reservoir yang paling mungkin untuk SARS-CoV-2, karena virus ini sangat mirip dengan virus corona pada kelelawar.
Kendati demikian, tidak ada kasus penularan langsung dari kelelawar ke manusia yang terdokumentasi, hal ini menunjukkan kemungkinan perantara yang terlibat antara kelelawar dan manusia.
Dalam skenario ini, kedua spike protein SARS-CoV-2 bagian RBD yang mengikat sel dan situs pembelahan yang membuka celah untuk virus, akan berevolusi ke kondisi saat ini sebelum memasuki manusia.
Dalam kasus ini, epidemi saat ini mungkin akan muncul dengan cepat segera setelah manusia terinfeksi. Sebab, virus telah mengembangkan fitur yang membuatnya menjadi patogen dan dapat menyebar di antara manusia.
Sedangkan dalam skenario lain, versi virus non-patogenik melompat dari inang hewan ke manusia, kemudian berevolusi menjadi kondisi patogen dalam populasi manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/seorang-paramedis-laboratorium-memegang-sampel-virus-di-laboratorium-hengyang.jpg)