Kisah Anak-anak Indonesia Eks ISIS yang Kini Ditinggal Orangtuanya: Ada Serangan Roket, Saya Berlari
Sedangkan Faruk, anak bumi pertiwi lainnya juga mengatakan kehilangan ayah dan bundanya di desa terakhir yang dikuasai ISIS, yaitu di Baghouz, Suriah.
Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi potensi lahirnya generasi kedua para Mujahid ISIS.
Sidney juga menyebut bahwa anak-anak tersebut (apabila dibiarkan di Suriah) dapat berpotensi melakukan gerakan terorisme di masa depan.

Deradikalisasi
Seorang pengasuh pondok pesantren yang merupakan mantan pelaku terorisme, Khairul Ghazali menyebut bahwa anak-anak yang dibawa orang tuanya ke Suriah adalah korban.
Ia yang kini mengasuh ponpes untuk menderadikalisasi anak-anak eks teroris di Medan, Sumatera Utara menyebut akan sangat berbahaya apabila anak-anak tersebut tak dikembalikan ke Indonesia.
"Korban itu bukan hanya yang kena serpihan bom, tapi juga anak-anak pelaku teroris. Mereka korban ideologi salah dan sesat dari orang tuanya," katanya.
"Kalau nggak dikembalikan malah lebih bahaya, mereka akan gabung dengan tokoh-tokoh teroris internasional. Mereka akan lebih ISIS daripada ISIS itu sendiri. Bahayanya lebih besar dari manfaatnya," ujarnya.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha/BBC Indonesia)
Artikel ini telah tayang di TribunnewsWiki.com dengan judul Curahan Hati Anak Indonesia Eks ISIS di Suriah: Ada Serangan Roket, Aku Lari, Ortuku Meninggal