Mahasiswa Diksar Menwa Tewas
Hasil Visum Tewasnya Mahasiswa Palembang Saat Diksar Menwa : Kemaluan Diduga Kena Benda Tumpul
Muhammad Akbar, mahasiswa perguruan tinggi swasta di Palembang tewas saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar) resimen mahasiswa (Menwa), Kamis (17/10/
Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Wawan Perdana
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Muhammad Akbar, mahasiswa perguruan tinggi swasta di Palembang tewas saat mengikuti pendidikan dasar (Diksar) resimen mahasiswa (Menwa), Kamis (17/10/2019).
Setelah dilakukan visum di RS Bhayangkara Palembang, ditemukan adanya dugaan kekerasan dengan benda tumpul di bagian alat vital (kemaluan) korban.
Hal ini diungkap dr Indra Nasution SpF ketika ditemui usai melakukan visum terhadap jenazah korban.
Menurut Indra, visum dilakukan di sekujur tubuh korban.
"Ditemukan adanya dugaan kekerasan dengan benda tumpul di bagian vital," katanya.
Indra belum bisa menyimpulkan penyebab kematian korban, karena hanya melakukan visum luar.
• Maspur Pembakar Istri Hidup-hidup di Surabaya Ditangkap, Ekspresinya bak Pembunuh Berdarah Dingin
Tetapi, diduga adanya pemukulan dengan benda tumpul di bagian vital korban yang membuat korban meninggal.
Sedangkan Kapolres Ogan Ilir AKBP Imam Tarmudi ketika dikonfirmasi menuturkan memang ada kejadian tersebut dan dari pihak keluarga sudah membuat laporan di Polres Ogan Ilir.
"Kami sudah memeriksa beberapa saksi dan mendatangi lokasi kejadian. Untuk sementara, kasus ini masih dalam penyelidikan," katanya.
Minta Maaf
Sebelum jenazah Muhammad Akbar masuk mobil, Komandan satuan Menwa Agus Giyawa tiba-tiba masuk ke dalam mobil ambulans.
Agus langsung sujud di kaki ibu Muhammad Akbar dan meminta maaf.
Suasana yang telah haru, bertambah pecah di dalam mobil ambulans ketika Agus sujud di kaki ibu korban.
Ibu korban, tidak bisa menahan tangis atas kepergian anak pertamanya tersebut.
Karena suasana haru, membuat teman Agus masuk ke dalam mobil dan mengajak Agus keluar mobil ambulans.
Menurut Agus, kejadian setelah istirahat makan siang.

Tiba-tiba korban mengaku bila kakinya keram.
Dilakukan tindakan dengan membawa korban ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
"Sebelum berangkat, juga sudah di cek kesehatan dan kami meminta persetujuan langsung. Kami tidak bisa bilang ada kekerasan atau tidak, biar polisi yang menentukan," ujarnya.
Sedangkan Komandan Resimen Mahasiswa Sumsel Rano Karno mengungkapkan bila pra diksar ini diikuti dari UMP dan Unitas Palembang.
"Pelaksana pra diksar ini dari UM, karena dari Unitas hanya 4 orang jadi ikut gabung dengan UMP. Ini hanya sifat sosial dan pengenalan menwa berlokasi di Desa Tanjung Senai Ogan Ilir," ujarnya.
Pra diksar ini, dilaksanakan selama satu Minggu. Para peserta ini dilaksanakan di Ogan Ilir untuk pengenalan mengenai Menwa.
"Hanya sosialisasi, tidak ada kekerasan," katanya.
Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa meninggal setelah mengikuti pra pendidikan dasar Resimen Mahasiswa di Desa Senai Ogan Ilir Palembang.
Muhammad Akbar (19 tahun), meninggal saat mengikuti pra pendidikan dasar yang tiba-tiba keram dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat di Ogan Ilir.
Orangtua korban, Tito (46) yang ditemui di RS Bhayangkara Palembang menuturkan, tidak ada firasat sama sekali atas meninggal anak pertamanya ini.
"Sebelum pergi, dia sempat pamit dan sujud. Dia berkata mau ikut diksar menwa di Inderalaya," ujar Tito berupaya menahan tangis, Kamis (17/10/2019).
Lanjut Tito, anak pertamanya tersebut izin berangkat untuk mengikuti pra diksar Menwa selama seminggu.
Namun, saat mengikuti ia mendapat kabar kalau anak pertamanya tersebut dilarikan ke rumah sakit. Setelah sempat di rawat di rumah sakit, akhirnya Akbar meninggal.
"Masih berduka, nanti baru akan mengambil langkah hukum setelah pemakaman," pungkasnya.