Tenaga Kerja Lokal di PLTU Sumsel 8 Bentrok dengan TKA China, Gegara Tak Paham Bahasa
Gara-gara tidak mengerti bahasa, Tenaga Kerja Lokal di PLTU Sumsel 8 di Desa Tanjung Lalang kecamatan Tanjung Agung ribut dengan TKA China
Penulis: Ika Anggraeni | Editor: Wawan Perdana
"Kemarin sempat ada tuntutan dari pekerja lokal untuk minta disamakan perlengkapan kerja, dan itu sudah disetujui managemen agar tidak terjadi kecemburuan antara pekerja lokal dengan TKA," katanya.
Ditambahkan, GA Manager China Huadian Hongkong Co Ltd (CHDHK), Liu Zheng mengatakan saat ini, proyek PLTU Sumsel 8 tersebut sudah memasuki tahapan kontruksi.
"Untuk TKA kita saat ini ada sekitar 400 orang sementara untuk tenaga kerja lokal ada sekitar 700 orang, dan semua sudah kita laporkan ke Imigrasi," katanya.
Ia juga berharap agar pengerjaan proyek PLTU Sumsel 8 ini dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
"Untuk itu kita meminta dukungan semua pihak baik dari masyarakat sekitar perusahaan, pekerja, pemerintah dan semua pihak terkait agar proyek ini dapat diselesaikan sesuai target," ungkapnya.
Menurut informasi di lapangan, pada hari Jumat lalu (27/9/2019) sekitar pukul 09.00 pagi WIB di lokasi proyek pembangunan PLTU Bangko Tengah 2x600 MW Mulut Tambang atau yang juga di kenal proyek PLTU Sumsel 8 milik PT Huandian Bukit Asam Power (PT HBAP) yang terletak di Desa Tanjung Lalang Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim telah terjadi aksi demonstrasi.
• Sentuhan Religius untuk Polisi Sepekan Dua Kali Siraman Rohani
Aksi ini diduga dipicu karena adanya kesalapahaman antara pekerja asing asal Cina dengan pekerja lokal asal Desa Darmo, Pulau Panggung, Tanjung Lalang Dan Seleman, hingga terjadilah bentrok antar pekerja.
Diketahui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap ) PLTU Bangko Tengah 2x600 MW, yang juga dikenal sebagai proyek PLTU Sumsel-8 ini kerjasama antara PT Bukit Asam (Persero) dan China Huadian Hongkong Co Ltd (CHDHK) yang melakukan consorium hingga menjadi nama PT Huandian Bukit Asam Power atau PT HBAP.