Aksi Cepat Tanggap ACT Sudah Bangun 263 Sumur Wakaf

BMKG sudah memprediksi periode kemarau tahun ini (Mei-Oktober) akan lebih kering dibanding tahun 2018.

Aksi Cepat Tanggap ACT Sudah Bangun 263 Sumur Wakaf
ISTIMEWA
DISTRIBUSI AIR - Mobil tangki bantuan Global Zakat dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang siap mendistribusikan air ke titik-titik kekeringan di musim kemarau. 

TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Guna menghadapi bencana kekeringan di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah menyalurkan bantuan jutaan liter air bersih di berbagai daerah.

Selain itu ACT juga telah membangun sumur wakaf di 263 titik lokasi untuk ratusan ribu penerima manfaat di seluruh Indonesia. Program bantuan ini akan terus berlangsung.

Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi mengatakan sebagian besar wilayah Indonesia masuk musim kemarau sejak Mei - Juni 2019.

BMKG sudah memprediksi periode kemarau tahun ini (Mei-Oktober) akan lebih kering dibanding tahun 2018. Sehingga, perlu kewaspadaan dan antisipasi lebih dini dari pemerintah dan masyarakat.

Berdasarkan pantauan BMKG hingga awal Agustus 2019, beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan meteorologi level ekstrim. Tercatat ada daerah yang sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan, bahkan lebih lebih dari 90 tidak ada hujan.

Kondisi ini tentu akan memiliki dampak lanjutan terhadap kekeringan pertanian dan kekurangan air bersih masyarakat. Selain itu, ancaman gagal panen bagi wilayah-wilayah pertanian tadah hujan semakin tinggi.
"Kolaborasi BMKG dengan ACT sebagai lembaga kemanusiaan, akan terus berlangsung yaitu dengan memberikan update ke tim ACT terkait hasil monitor dan peringatan dini terkait wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan,” ungkapnya.

Sejalan dengan itu, Wahyu Novyan, Director Social Distribution Program (SDP) ACT menambahkan saat ini hampir 3,5 juta warga menjadi korban dampak kekeringan. Saat ini, bahkan 55 kota/kabupaten, 28% provinsi telah terdampak artinya lebih dari 2/3 dari total semua provinsi di Indonesia.

"Hasil dari pemetaan kita, ada lingkaran setan yang perlu diputus. Hal ini karena kemarau yang muncul merupakan dampak dari perubahan iklim yang ekstrem di dunia hingga pemanasan global yang dapat berdampak pada kekurangan gizi pada anak, kemiskinan hingga kematian, jika terus dibiarkan ini dapat menyebabkan lost generation. Hal ini yang perlu dijadikan perhatian utama. Merespon kondisi ini, ACT akan mendistribusikan 2,1 juta liter air bersih per hari, di 28 cabang kantor ACT dengan target kita bisa memberikan 500.000 penerima manfaat per hari,” ungkapnya.

Wahyu juga menambahkan, kekeringan memang bukan bencana yang bisa secara langsung berdampak pada kematian, namun kekeringan merupakan bencana yang sangat laten. “Kekeringan bukan bencana rapid on set namun slow on set. Slow on set ini memliki dampak mematikan, dengan kondisi air bersih di dunia sekarang hanya sebesar 3%.

Hal ini tentu akan berdampak pada generasi mendatang hingga lost generation. Tentunya, dengan bahaya laten kekeringan ini kami mengajak partisipasi masyarakat untuk benar-benar peduli dengan bencana yang dampaknya tidak hanya terjadi saat ini namun hingga ke generasi berikutnya,” tambah Wahyu.

Halaman
12
Editor: Vanda Rosetiati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved