Herman Deru Inisiasi Kawasan Transmigrasi Berbasis Profesi

HD Didaulat Menjadi Narasumber Koordinasi Nasional Transmigrasi tahun 2019

Herman Deru Inisiasi Kawasan Transmigrasi Berbasis Profesi
Dok.Pemprov Sumsel
HD Didaulat Menjadi Narasumber Koordinasi Nasional Transmigrasi tahun 2019 

JAKARTA, TRIBUNSUMSEL.COM - Gubernur Sumsel H Herman Deru menjadi satu-satunya gubernur di Indonesia yang didaulat menjadi narasumber keberhasilan pembangunan transmigrasi 4.0, bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP dan  Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo, BSEE., M.BA pada Rapat koordinasi Nasional Transmigrasi tahun 2019 di Golden Ballroom The Sultan Hotel and Residence, Jakarta Kamis(1/8) pagi.

 Rakornas Transmigrasi tahun 2019 yang mengusung tema  Revitalisasi Pembangunan Ekonomi Kawasan Transmigrasi 4.0 itu sebelumnya dibuka langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla 

 “ Di kawasan transmigrasi itu kita buatkan rumah, berikut dengan program keahlian. Seperti kalau ada yang ahli di bidang otomotif kita buatkan bengkel untuk masyarakat menyalurkan keahliannya, yang ahli dibidang pembuatan genteng, batu bata juga kita buatkan, kita juga bangunkan sekolah. Esensi nya di pemerataan penduduk, maka kita di daerah berfikir kreatif,” ungkapnya 

 Herman Deru mengakui, saat ini potensi transmigrasi pada Revitalisasi Pembangunan Ekonomi Kawasan Transmigrasi 4.0  sudah punya peran yang cukup signifikan di dalam mengelola potensi daerah.

 “ Sesuai pesan Wakil Presiden tadi  ini juga harus menjadi catatan kita di daerah bagaimana daerahnya yang didatangi transmigrasi menjadi baik. Jangan sampai yang didatangi merasa tidak terperhatikan. Oleh sebab itu harus ada keseimbangan,” tuturnya

 Menurutnya, sukses itu banyak peran yang terlibat antara  peran pemerintah provinsi, kabupaten/walikota dan juga peran pendatang dan yang didatangi masyarakat.

Transmigrasi adalah program sejak zaman Belanda namun setiap daerah itu beda esensi, ada yang untuk membangun proyek tertentu pada zaman Belanda ada yang pemerataan penduduk, di saman sekarang ada pemanfaatan lahan dan disaat ini eranya berbeda.

 “Justru transmigrasi menjadi potensi besar pertumbuhan ekonomi, nah ini butuh kerjasama yang lebih komprehensif lagi dari tiga jenjang mudah-mudahan transmigrasi akan menjadi kekuatan yang mendukung percepatan pembangunan di daerah tujuannya itu. Salah satunya membuat terobosan baru transmigrasi berbasiskan keterampilan. Mereka harus menjadi motivator bagi masyarakat setempat,” katanya.

 “Tipsnya adalah bagaimana peran pemerintah daerah menyatukan pendatang dan yang didatangi paling tidak menghilangkan kesenjangan. Degan cara Pemda harus berkeadilan. Adil tidak harus sama, Pemda sangat dibutuhkan kestabilan bahkan kestabilan NKRI,” pungkasnya. 

 Sementara Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam arahannya mengatakan  permasalaan yang timbul karena tiap transmigrasi seperti  diberikan lahan dua hektar maka timbul kesenjangan  antara yang datang dapat dua hektar dan yang didatangi tidak punya lahan.

 “Maka timbulah transmigrasi lokal yang kemudian berkembang di daerah-daerah untuk menyeimbangkan antara yang datang dan didatengi,” tuturnya 

Menurutnya, perkembangan-perkembangan transmigrasi itu terlahir dinamis, terlebih sekarang ini transmigrasi pada dasarnya ialah  untuk memberikan kesehjahteraan yang datang dan menambah kesejahteraan yang didatangi.

 “Sehingga bisa ada keseimbangan kalau yang didatangi tidak sejahtera kemudian yang datang tidak sejahtera tentu hal itu akan menjadi masalah. Sehinngga transmigrasi adanya suatu pengetahuan  antara masyarakat-masyarakat untuk memiliki manfaat bersama,” tandasnya. (rel humas)

Editor: Erwanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved