Cerita Khas Palembang

Sejarah Sekojo Palembang, Pernah Jadi Landasan Pacu dan Nama Berasal dari Bunga Jepang

Sekojo merupakan salah satu kawasan yang ada di Kota Palembang di daerah Kecamatan Ilir Timur II.

Sejarah Sekojo Palembang, Pernah Jadi Landasan Pacu dan Nama Berasal dari Bunga Jepang
FAJRI/TRIBUNSUMSEL.COM
Jalan Urip Sumoharjo yang termsuk daerah Sekojo, Jumat (26/7/2019) 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sekojo merupakan salah satu kawasan yang ada di Kota Palembang di daerah Kecamatan Ilir Timur II.

Menurut Sejarawan Palembang, Rd. Muhammad Ikhsan bahwa tak banyak cerita tentang Sekojo ini, namun Sekojo ini merupakan bekas landasan pacu untuk pesawat tempur.

"Untuk lapangan terbang memang sudah ada di Talang Betutu, tapi di Sekojo ini merupakan lapangan terbang di zaman Jepang. Di waktu Jepang masuk Indonedia mereka buat landasan pacu untuk pesawat tempur," ujarnya, Jumat (26/7/2019)

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa Sekojo kemungkinan besar wilayah Jepang.

Namun untuk arti nama Sekojo sendiri menurut Ikhsan sampai sekarang belum ketemu artinya.

"Sudah saya teliti apa arti namanya Sekojo belum ketemu. Tapi sudah dapat yang mendekati yaitu Sekojo ini nama bunga dari bahasa Jepang," ungkapnya.

Tribun Wiki : Sejarah Lorong Basah di Palembang, Lokasi Pendatang Tionghoa Mencari Nafkah

Sejarah dan Arti Nama Sekip di Kota Palembang, Ternyata Dulunya Tempat Latihan Menembak Belanda

Ia pun mengatakan, bahwa pada waktu zaman mereka itu landasan pacunya pernah didarati Jenderal Oerip Soemohardjo. Pada saat meresmikan batalion yang ada di Palembang.

"Batalion apa namanya saya lupa. dan Jenderal Oerip Soemohardjoia turun di landasan pacu yang ada di Sekojo tersebut. Landasan pacu di Sekojo tahun 1946/1947 masih dipakai,"ceritanya.

Ia juga bercerita bahwa kakaknya juga pernah ditugaskan menanam pohon disana. Ketika digali memang benar dibawah itu ada lapisan aspal untuk landasan pacu.

Makanya di daerah sekojo itu pohon-pohon besar tidak banyak. Karena bertemu dengan aspal bekas landasaen pacu.

Kecuali pohon yang ditanam betul dengan cara digali pakai lingis sampai dalam, itu pernah dilakukan di 1968 ditanam pohon.

Perhatikan saja tidak banyak disana pohon-pohon besar karena kesulitan tumbuh.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved