Pedagang Kue Kering di Muaradua Terpaksa Banting Harga, Ini Penyebabnya

Bahkan untuk cemilan seperti kacang dan coklat pun terpaksa dijual dengan sistem banting harga.

Pedagang Kue Kering di Muaradua Terpaksa Banting Harga, Ini Penyebabnya
ALAN/SRIWIJAYA POST
Kue kering di Pasar Tradisional Muaradua, Selasa (4/6/2019). 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARADUA--Warga lebih memilih membuat menu kue dirumah sendiri, sehingga berdampak pada sepinya pembeli, pedagang roti kering di Pasar Tradisional Saka Selabung Muaradua terpaksa menurunkan harga, Selasa, (04/06/2019).

Menjelang hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah omset pedagang menurun drastis, kejadian demikian berbeda dengan omset seperti yang pada tahun sebelumnya, sehingga mengakibatkan pedagang terpaksa menjual dengan harga yang relatif sangat murah.

Dilokasi, pada H-1 jelang Ramadhan, 1440 Hijriah, namun pengunjung pasar diluar prediksi, tidak seramai pada tahun sebelumnya. Akibatnya omset para pedagang kue kering merosot hingga 30 %.

Sementara serta kue basah seperti jenis kue lapis yang biasa menjadi buruan pembeli mengalami hal sama, sehingga pedagang menurunkan penurunan harga senilai Rp 20 ribu.

Padahal pada pertengahan puasa lalu pedagang masih menjual Rp 70 ribu turun, sehingga menjadi Rp 50 ribu perloyangnya.

“Tahun lalu, 2 hari jelang hari H, omset sudah mencapai 10-15 juta. Sekarang hanya 5 juta saja,” ujar Mira, pedagang kue kering di Pasar Tradisional Saka Selabung Muaradua.

Menurutnya, sepinya pembeli mengakibatkan turunya omset yang biasanya mencapai 15 hingga 30 juta jelang hari H, kini hanya mencapai 8-10 juta saja.

Hal itu juga terjadi pada jenis kue lainnya, seperti kue kering dan kemplang ikan. Bahkan untuk cemilan seperti kacang dan coklat pun terpaksa dijual dengan sistem banting harga.

Sementara seorang pembeli Helen, mengatakan belanja kue kering jelang hari raya sengaja dikurangi. Untuk menghemat pengeluaran, dirinya sudah menyiapkan kue-kue persiapan lebaran dari jauh hari dengan cara mengikuti arisan kue.

“Memang beli sedikit, untuk tambahan saja. Kalo untuk kue-kue kering dan basah, saya ikut arisan mingguan 2 bulan sebelum lebaran. Jadi sudah ada persiapan,” ujar Helen.

Hari raya idul fitri 1440 hijriah ini bertepatan dengan musim panen komuditas petani di OKU Selatan, namun warga lebih memilih membuat sendiri kue dirumah karena, meskipun dengan biaya yang lebih tinggi.

" 60 persen kue hidangan dirumah kita bikin dengan resep sendiri,"pungkas Helen. (Sripoku/Alan)

Editor: Yohanes Tri Nugroho
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved