Pilpres 2019

Setelah Hastag 2019 Ganti Presiden, Muncul Hastag Lainnya Minta Presiden Diganti

Di media sosial berseliweran hastag '2019 Ganti Presiden' dan 'Jokowi 2 Periode'. Fenomena itu muncul jauh

Tayang:

TRIBUNSUMSEL.COM-Di media sosial berseliweran hastag '2019 Ganti Presiden' dan 'Jokowi 2 Periode'. Fenomena itu muncul jauh sebelum Pilpres 2019 berlangsung.

Hastag itu kemudian dipertanyakan, apakah itu merupakan aktivitas kampanye?

Anggota Bawaslu RI, Ratna Dewi Pettalolo, mengungkapkan bahwa munculnya hashtag-hashtag '2019 Ganti Presiden' dan 'Jokowi 2 Periode' bukan termasuk dalam aktivitas kampanye.

Baca: Tak Hanya Super Junior, ini Hal yang Perlu Kamu ketahui dari Closing Ceremony Asian Games 2018

Baca: Bawaslu Kota Tegur Partai Gara-gara Bacaleg Kampanye di Medsos

Baca: Sidang Mediasi antara KPU dan PAN, PBB Hari Ini Digelar di Bawaslu

Menurut Bawaslu, kampanye merupakan aktivitas yang dilakukan setelah ditetapkannya peserta Pemilu.

Sementara itu, hingga kini belum ditentukan secara resmi siapa Calon Presiden dan Cawapres yang akan bertanding dalam Pilpres 2019.

"Curi start kita pahami bahwa ada aktivitas yang dilakukan sebelum ada penetapan peserta pemilu," kata Ratna.

"Di pasal 1 UU Pemilu aturan kampanye disebutkan bahwa kampanye dilakukan jika sudah ada peserta pemilu,"terangnya.

"Pertanyaan kita sekarang sudah ada tim kampanye atau belum ? Nah belum ada tim kampanye, karena tim kampanye itu adalah tim yang dibentuk oleh peserta. Sementara sampai saat ini KPU belum menetapkan pasangan calon presiden," lanjutnya.

Menurutnya tagar-tagar dukungan bakal Calon Presiden yang telah bermunculan merupakan bentuk aspirasi rakyat semata.

Sehingga, ini tak termasuk mencuri start kampanye.

"Aktivitas yang bermunculan di media, misalnya hashtag '2019 Ganti Presiden' atau 'Jokowi 2 Periode', menurut Bawaslu ini masih menjadi bagian dari ruang yang digunakan untuk menyampaikan aspirasi dari masyarakat," papar Ratna Dewi.

Ahmad Yohan, Ketua Umum Barisan Muda PAN, juga menjawab tudingan mencuri start saat Zulkifli Hasan memperkenalkan Sandiaga Uno sebagai Cawapres di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) saat memberikan sambutan.

Kubu Jokowi pun menganggap bahwa tindakan Zulkifli tersebut termasuk mencuri start dalam kampanye.

Namun, Ahmad Yohan menilai tindakan yang dilakukan Zulkifli tersebut adalah hal wajar.

"Saya kira itu hal yang biasalah ketika respon dari mahasiswa apalagi yang hadir di sini ketum PAN yang juga bagian dari pesta demokrasi ini, jadi mungkin orang bertanya," katanya.

"Jadi Wajar saja Pak Zul kenalkan salah satu calon yang akan dia dukung ," kata Ahmad Yohan.

Sementara itu kubu yang menyuarakan #2019gantipresiden belakangan ini menjadi sorotan.

Bahkan #2019gantipresiden dianggap telah menjadi aksi sehingga saat sejumlah yang dianggap pro dengan aksi tersebut ditolak kedangan mereka di sejumlah daerah.

Kedatangan mereka dianggap kubu lainnya melanggar aturan sehingga terjadilah aksi penolakan tersebut.

Sebu saja Ahmad Dhani yang ditolak di Surabaya, kemudian Ratne Sarumpet, Rocky Gerung, dan Neno Warisman.

Dianggap hastag tersebut membahayakan kini malah beredar hastag yang hampir serupa #2019tetapjokowiygdiganti.

Hal tersebut dibagikan akun gosip igtaintment Minggu (2/9/2018).

Akun ini menscreenshoot percakakapan dirinya dengan pemilik akun Instagram @johanfilm.

instagram
instagram ()
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved