Ledakan di Gereja Surabaya

Jago Merakit Bom,Dita Oepriarto Pernah Kuliah di Unair Segini IPKnya,Hingga Pernikahannya Ditentang!

Dita Supriyanto, pelaku teror bom di gereja Surabaya dinyatakan bukan alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabay

Kolase Tribunsumsel
Bom Gereja 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Dita Supriyanto, pelaku teror bom di gereja Surabaya dinyatakan bukan alumni Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Rektor Unair, Prof Moh Nasih mengatakan, Dita memang sempat menjadi mahasiswa di Diploma 3 Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi UNAIR dengan NIM 049114141P.

"Jadi bukan seperti informasi simpang siur katanya dia kuliah di D3 Akuntansi,"ujarnya, ketika dikonfirmasi, Senin (14/5/2018).

Selain itu, Dita juga tidak pernah aktif di kegiatan organisasi mahasiswa, baik di Senat Mahasiswa maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), termasuk Kelompok Kajian di Masjid Kampus.

"Jadi, sangat tidak relevan jika publik mengkaitkan perilaku teror bom Surabaya dengan institusi Unair," tegasnya. (Surya/Sulvi)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Dita si Pengebom Gereja di Surabaya Pernah Kuliah di Unair, Tapi Drop Out Gara-gara . . .,

Pernikahan Dita Oepriarto dengan Sang Istri Tak Direstui Pihak Keluarga,Ini Alasannya

 Salah satu anggota keluarga pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya, Puji Kuswati (43), lahir di Banyuwangi.

Meskipun Puji jarang pulang dan berkomunikasi, pihak keluarga tetap perhatian pada anak ketiganya itu.

Puji lahir di Dusun Krajan, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Menurut Kepala Desa Tembokrejo, Banyuwangi, Sumarto, Puji memang lahir di desanya.

Namun tidak tercatat secara administrasi berdomisili di Banyuwangi.‎

“Bukan warga sini, hanya lahir di desa ini. Sesuai pengakuan dari pihak keluarga, sejak masih berusia 20 bulan sudah diasuh dan tinggal bersama bibinya di Magetan," kata Sumarto, Senin (14/5/2018).‎

Baca: Warga Dengar 4 Kali Tembakan Saat Densus 88 Gerebek Rumah Teroris di Sidoarjo,Satu Tewas Ditempat!

Baca: Pelaku Naik Motor Saat Bom Polrestabes Surabaya,Terkuak Fakta Ini dari Nopol Kendarannya,Ternyata

Baca: Beredar Pesan Berantai Tentang Teror, Ini 7 Fakta dan Info Hoax Terkait Bom Bunuh Diri di Surabaya

Baca: Jangan kaget Ternyata Segini IPK Pelaku Bom Bunuh Diri di Surabaya saat Jadi Mahasiswa

Baca: Ini Saksi Kunci yang Bakal Bongkar Motif dan Dalang di Balik Bom Bunuh Diri di Polrestabes Surabaya

Baca: Cerita Anak Kecil Bangkit Usai Bom Di Polrestabes Surabaya, Sampai Ada Tulisan Ini Di Celana Dalam

Rumah keluarga Puji Kuswati di Banyuwangi
Rumah keluarga Puji Kuswati di Banyuwangi (surya/haorrahman)

Menurut Sumarto, Puji merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Koesni dan Minarti.

Sumarto menjelaskan, saat menikah pihak keluarga tidak menyetujui pernikahan Puji dengan suaminya, Dita Supriyanto. ‎

"Keluarga jarang berkomunikasi dengan Puji, dan dia juga jarang pulang," kata Sumarto.

Sumarto menjelaskan, meski jarang berkomunikasi, pihak keluarga tetap perhatian pada Puji.

Bahkan pihak keluarga pernah membelikan mobil hingga tapi dijual.

Baca: Ledakan Bom Bunuh Diri di Polrestabes Surabaya, Ini Video Terbaru Rekam Para Polisi Terluka!

Baca: Pasca Penyerangan Bom di Mapolrestabes Surabaya, Polres Muaraenim Berlakukan Sistem One Gate

Baca: Mantan Teroris Beber Cara Licik Teroris Cuci Otak Pengantin dari Eksploitasi Wanita Hingga Bomber

"Pernah dibelikan mobil tapi dijual terus. Terakhir dibelikan mobil, agar tidak dijual BPKB-nya tidak diberikan ada di Banyuwangi," kata Sumarto.

‎Tidak hanya itu, rumah Puji di Surabaya juga merupakan pemberian dari orangtuanya.

Satu Keluarga Sempat Menangis Usai Sholat Subuh

Dita Oepriarto dan keluarga, pengebom tiga gereja di Surabaya, sempat salat Subuh berjemaah di masjid dekat rumahnya. Rumahnya tergolong besar di Wisma

Indah Blok K-22 Rungkut, Surabaya.

Dikutip dari berbagai situs online, Khorihan, Ketua RT tempat Dita dan keluarga tinggal, mengungkapkan momen tersebut.

"Mereka masih salat Subuh berjemaah sebelum hari pemboman.. Oh iya, Maghrib sebelumnya anak kedua habis salat sempat nangis-nangis terus dirangkul, dicium, di'puk-puk'," kata Khorihan saat ditemui kumparan di kediamannya, Senin (14/5),

Keluarga pelaku ledakan bom di Surabaya

Khorihan menjelaskan, Dita memang kerap salat berjemaah dengan anak lelakinya. Sementara istri dan dua anak perempuan Dita menunggu di rumah.

"Kebiasaan Dita sekeluarga datang salat setelah ikamah, setelah salat pulang. Kebiasaan selalu rangkul anak dan cium kening anak habis salat jemaah," ungkap dia.(*)

Sumber: Tribun Jatim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved