Berita Palembang
BPN: Sejumlah Kawasan di Palembang Rawan Konflik Tanah, Pengembang Harus Waspada
Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Palembang Edison mengakui jika sejumlah kawasan di Palembang kepemilikan tanahnya .
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Palembang Edison mengakui jika sejumlah kawasan di Palembang kepemilikan tanahnya tumpang tindih dan bersengketa.
Oleh sebab itulah pengembang rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) perlu berkonsultasi dengan BPN jika ingin mengajukan tanah untuk membangun rumah.
Setiap pengembang biasanya minimal membeli tanah minimal lima ribu meter persegi tanah.
Jumlah ini luas sehingga jangan sampai kemudian hari ada masalah maka sebelum membeli tanah konsultasi dengan BPN dulu.
Baca: Jalanan di Lahat Ini Bahaya, Banyak Biawak Tiba-tiba Melintas dan Mengejutkan Pengendara
Agar bentangannya tidak bersingungan dengan masyarakat dan bersih tidak akan ada tumpang tindih kemudian hari.
Edison mengakui pemetaan kadang bermasalah disebabkan metode pengukuran dan pemetaan berubah setiap waktu.
Dulu cuma menggunakan meteran dan kompas tapi kini sejak adanya perubahan koordinat nasional sehingga sering timbul masalah pada saat pemetaan.
Tanah tidak bermasalah, tapi di pemetaan ternyata bertumpuk, kalau di peta tidak bermasalah tapi di lapangan tumpang tindih.
Baca: Hujan Deras Semalaman, Drainase Banyak yang Rusak, Banjirlah Palembang
"Saya sampai dilaporkan ke Ombusman, kejaksaan karena dianggap ada main dan hari ini bakal diadakan jumpa pers di Kemenkumham tapi saya siap mengahadapinya," kata Edison, kamis (15/3).
Bukan cuma masalah tumpang tindih lahan saja yang diutaran Edison tapi seringnya pengembang berurusan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) membuat sejumlah pengembang ditelepon oknum tidak bertanggung jawab yang mencatut nama.
Nama Edison dicatut untuk meminta uang pada pengembang agar proses pengurusan lahan perumahan lancar dan cepat.
"Ada sejumlah pengembang yang datang ke kantor dan melapor kalau saya menyuruh mengirim uang."
"Tapi setelah dikroscek kebenaran nomor telepon dan lain-lain ternyata bukan saya karena tidak cocok nomor dan keterangnnya," ujarnya.