Puluhan Kali Judul Penelitiannya Ditolak Saat Kompetisi,Pelajar Asal Jogja Ini Malah Diundang Google

Mungkin kamu pernah mendengarkan kata-kata seperti ini."Si A karyanya ditolak di Indonesia, t

Tayang:
Tribunnews.com
Cristopher Farrel Millenio Kusuma 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Mungkin kamu pernah mendengarkan kata-kata seperti ini.

"Si A karyanya ditolak di Indonesia, tapi begitu coba ke luar negeri malah jadi terkenal."

Atau kalimat seperti ini.

Yap, hal serupa memang seringkali terdengar di telinga kita.

Entah karena penilaiannya di Indonesia yang kurang atau memang sudah nasibnya bisa mengembangkan bakat di luar negeri.

Peristiwa serupa juga dialami oleh seorang remaja asal Yogyakarta ini.

Siswa SMAN 8 Yogyakarta ini mengaku sudah 11 kali mengajukan judul penelitiannya di berbagai ajang kompetisi Indonesia.

Sayangnya, judul penelitian tersebut malah ditolak.

Melansir dari Kompas.com, Penolakan itu tidak membuatnya berkecil hati.

Justru hal itu malah membuat semangat remaja berkacamata itu kian membara.

Nama dari remaja berprestasi tersebut adalah Cristopher Farrel Millenio Kusuma.

Dia terus berusaha menyempurnakan penelitiannya baik dari sisi teori hingga penulisannya.

Sebab, remaja kelahiran Yogyakarta ini yakin suatu saat penelitiannya akan diterima.

"(Saya) tidak menyalahkan panitia, tetapi diri saya sendiri dan mengevaluasi.

Mungkin cara saya menyampaikannya kurang tepat sehingga mereka sulit memahami, jadi terus disempurnakan sampai-sampai membuat delapan versi," ujarnya.

Farrel kemudian iseng-iseng untuk mengajukan judul yang ditolak di Indonesia tersebut ke Google.

Dirinya tak menyangka akan mendapat undangan melalui email dari Google untuk mempresentasikan karyanya.'

Tribunstyle melansir dari Tribunnews, Farrel berhasil menciptakan penelitiannya tentang "Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data."

Google sendiri ingin Farrel mempresentasikan gagasannya di Mountain View, California.

Kompas
Kompas ()

"Berangkat ke sana karena proposal penelitian saya berjudul 'Data Compression using EG and Neural Network Algorithm for Lossless Data' lolos," kata Farrel saat ditemui Kompas.com di SMA Negeri 8 Yogyakarta, Rabu (22/11/2017).

Ide penelitian yang mengantarkannya ke Google berawal dari hal sepele.

Farrel ingin mengunduh sebuah game. Namun, kuota data yang dimilikinya terbatas.

Waktu itu, Farrel masih duduk di kelas 1 SMA.

"Awalnya itu ingin men-download game, tapi kuota terbatas, padahal saya ingin sekali main game itu.

Lalu kepikiran, bagaimana caranya mengecilkan game itu, biar bisa main," tuturnya sembari tertawa.

Dari keinginannya main game tersebut, Christopher Farrel Millenio lalu mulai mencari di internet cara mengecilkan data.

Dari pencariannya itu, remaja berusia 17 tahun ini menemukan data compression atau pemampatan data.

"Saya iseng-iseng mencari lalu riset dan ternyata, data compression belum begitu berkembang, ya lalu muncul ide untuk meneliti karena dampaknya luas juga," katanya.

Di luar negeri, tuturnya, orang saling bertukar ide dan mereka tidak takut jika ide mereka diambil.

"Untuk apa memiliki ilmu yang banyak tapi saat kita mati tidak berguna untuk dunia ini.

Lebih baik ilmunya diberikan kepada orang lain," tuturnya menirukan pesan pada saat diskusi di California.

"Maka saya ingin berbagi ilmu yang saya dapatkan akan saya bagikan ke orang lain," Imbuhnya. (Tribunstyle/ Irsan Yamananda)

Sumber: TribunStyle.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved