Musim Kemarau tapi Sumsel Sering Dilanda Hujan Ternyata Berkat Usaha Ini
Gubernur bahkan telah memerintahkan sejumlah pihak untuk meningkatkan hujan buatan saat kondisi awan seperti sekarang.
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Hartati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,- Pemerintah Provinsi Sumsel melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, bersama BNPB telah menaburkan sekitar 90 ton garam (NaCl) sejak Juni hingga sekarang.
Garam tersebut ditaburkan ke dalam awan untuk mempercepat turunya hujan.
Percepatan hujan atau hujan buatan tersebut, dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang dipimpin ahli BPTP Dr Seto Handoko, serta pihak TNI AU.
Melalui informasi dari BPBD Sumsel, penaburan garam itu dilakukan pesawat Casa yang didatangkan dari BNPB, yang terus terbang melakukan penyemaian awan.
"Hujan ini dibuat atau dipacu dengan menebarkan NaCl ke udara, dengan sehari kurang lebih 2 ton. Total yang kita sebarkan sekitar 90 ton dari Juni lalu," kata Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana, Yulizar Dinoto didampingi Plt Kepala BPBD Sumsel Iriansyah, Kamis (31/8/2018).
Menurut Yulizar, hujan itu mereka usahakan secepatnya jatuh dengan teknologi modifikasi cuaca, dengan tujuan membasai lahan atau wilayah gambut dan mineral yang mudah terbakar.
Sebab secara teori cuaca sekarang cukup panas.
"Jadi jangan heran jika saat ini masih ada hujan, karena upaya hujan buatan dan jelas kehendak tuhan semuanya. Sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, hujan dan awan-awan potensial banyak terdapat di wilayah Sumsel pada pertengahan Oktober mendatang," jelasnya.
Atas dasar itulah, menurut Yulizar pemerintah mengintensifkan operasi hujan buatan untuk mempercepat dan meningkatkan intensitas hujan.
Gubernur bahkan telah memerintahkan sejumlah pihak untuk meningkatkan hujan buatan saat kondisi awan seperti sekarang.
Proses hujan buatan, bahwa garam dapur dengan butiran sangat kecil ditaburkan pada awan-awan Cummulus.
Butir NaCl tersebut bersifat higroskopis yang menyerap butir-butir air dalam awan sehingga bertambah besar ukuran butirnya.
"Titik fokus kita di wilayah OKI, OI Muba, dan Banyuasin serta daerah lainnya, karena daerah gambut. Palembang, sebagian Empat Lawang dan Pagar Alam juga. Minimal proses pembakaran lahan tidak terjadi karena lahannya basah, dan ini berkat kerjasama TNI, Polri, Pemda, dan Agni, serta pihak swasta yang bahu membahu menekan kebakaran lahan," ucapnya.
Plt Kepala BPBD Sumsel Iriansyah melanjutkan, selain melakukan penaburan garam di udara, pihaknya saat ini menyiapka 4 heli, yang stand bye di tempatnya, yaitu heli Mi17, Mi8, Mi15, dan Bolco.
"Jadi, jika ada titik api , kita langsung groundbreking (patroli udara) untuk melihat, apakah benar ada titik hotspot, dan segera kita lakukan boombing melalui udara," pungkasnya.