Lahir Berbeda dari Lainnya Semangat Alip Hidup Normal Segera Terwujud

Dengan bantuan tersebut kini harapan putranya bisa berjalan normal sama dengan anak-anak pada umumnya akan terwujud.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Hartati
tribunsumsel.com/Eko Hepronis
Arip saat kakinya di ukur oleh Dokes Mapolres Mura dan Tim Kick Andy Faundation, Rabu (12/7/2017). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS -- Senyum semangat Alip Nastain (9) untuk berjalan ‎layaknya orang normal seperti biasa akhirnya segera terwujud.

Setelah ia tercatat salah satu bakal penerima bantuan kaki ‎palsu dari program Kick Andy Faundation bekerja sama dengan Mapolres Mura.

Untuk mewujudkan mimpinya bocah kelas 4 Sekolah Dasar (SD) ini harus menempuh empat jam perjalanan dari rumahnya di desa Tebing Tinggi SP 1, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara)‎, menuju Mapolres Musi Rawas (Mura).

Mengenakan kaos oblong warna coklat, Alip sempat terlihat tegang dan ingin menangis saat kakinya diukur tim Kick Andy Faundation bersama dengan anggota Mapolres Mura, Namun wajahnya kembali ceria saat tim mengatakan jika pengukuran tersebut hanya sesaat dan tidak menimbulkan rasa sakit.

Jariyem (35), Ibu Alip menuturkan sangat berterimakasih atas bantuan yang diberikan oleh Kick Andy Faundation dan Polres Mura.

Dengan bantuan tersebut kini harapan putranya bisa berjalan normal sama dengan anak-anak pada umumnya akan terwujud.

"Alhamdulillah syukur dapat bantuan. Mulai sekarang dia (Alip) tidak perlu malu lagi saat ‎main sama dengan teman-temannya dirumah dan sekolah, kalau sudah dapat nanti bisa jalan normal, tidak seperti orang cacat lagi," ungkapnya pada Tribunsumsel.com, Rabu (12/7/2017).

Jariyem menuturkan cacat pada kaki ka‎nan putranya tersebut bukan karena cacat hasil kecelakaan.

Namun karena cacat bawaan sejak pertama kali Alip lahir.

Namun meskipun kondisinya cacat, Alip bukanlah sosok anak yang mudah mengeluh.

"Semua aktivitasnya dilakukannya layaknya seperti orang normal pada umumnya. Dia (Alip) mahir bermain sepeda, bahkan dia juga mahir saat memanjat pohon. Kalau berjalan ia selalu menggunakan satu kaki dan satu tangan," ujar Jariyem.

Jariyem juga mengatakan ‎jika selama ini bukannya ia dan suamninya tidak mau membuatkannya kaki palsu.

Tapi karena keterbatasan ekonomilah yang jadi kendala.

Apalagi saat ini harga sawit dan harga karet sedang turun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved