Busyet, Jengkol Sekarang Harganya Lebih Mahal dari Daging Ayam
Dua pekan menjelang Idul Fitri, harga daging sapi dan ayam potong di Pasar Inpres Lubuklinggau, masih relatif stabil.
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Kharisma Tri Saputra
Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis
TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU - Dua pekan menjelang Idul Fitri, harga daging sapi dan ayam potong di Pasar Inpres Lubuklinggau, masih relatif stabil.
Justru, kenaikan harga terjadi pada jengkol yang melonjak sejak sepekan terakhir.
Jika biasanya jengkol tua dijual Rp 30 ribu per kilogramnya, pada Minggu (11/6/2017), sejumlah pedagang menjualnya dengan harga mencapai Rp 60 ribu.
Seorang pedagang jengkol di Pasar Inpres Kota Lubuklinggau, Yun (48) mengaku, terpaksa menjual jengkol dengan harga yang sangat tinggi.
Karena modal membeli jengkol cukup tinggi yakni mencapai Rp 48 ribu per kilogram.
"Barangnya ngambilnya jauh, ambilnya dari pasar pagi, modalnya Rp 48 ribu ya terpaksa kita jual Rp 65 ribu," ungkapnya pada tribunsumsel.com.
Ia menuturkan, sebelumnya jengkol sempat hilang dari pasar Inpres Kota Lubuklinggau, karena memang barangnya tidak ada.
"Sempat hilang, baru seminggu ini ada lagi. Ya karena memang barangnya tidak ada," katanya.
Tak hanya jengkol, komoditas serupa, kabau juga tak terlihat ada dalam dagangan Yun.
"Apalagi kabau, langka sekali. Di pasar ini tidak ada yang jual kabau," ucapnya seraya mengaku tak mengetahui pasti penyebab langkanya kabau.
Berbeda halnya dengan jengkol, daging sapi yang biasanya dijual relatif tinggi mendekati lebaran, justru harganya masih stabil.
Topik (40), pedagang daging mengaku masih menjual daging sapi dengan harga Rp 110 ribu per kilogram.
"Kalau tulangnya yang biasa untuk sop atau pindang kita jual Rp 80 ribu," katanya.
Sama halnya dengan daging ayam yang masih dijual dengan harga Rp 28-30 ribu per kilogram.