Bukan Peribahasa, Inilah Kisah Pria Tampan Bermuka Dua

Wajah bagian depan berfungsi normal sedangkan wajah bagian belakangnya hanya bisa tersenyum, namun tidak bisa berbicara ataupun makan.

Elitereaders
Patung lilin Edward Mordake yang berwajah dua 

Tetapi para ilmuwan membantah soal itu karena kembar parasit selalu mempunyai jenis kelamin yang sama.

Cerita lain menyebutkan juga bahwa wajah kedua Edward adalah wajah Iblis yang selalu memanggil setan dan kejahatan

Edward begitu tersiksa dengan dua wajahnya tersebut dan dia mencoba mendatangi beberapa orang dokter untuk membuang wajah keduanya.

Konon, satu lagi perkara yang menarik tetapi sangat tidak masuk akal adalah fakta bahwa muka tersebut seolah-olah dapat berbicara, tetapi tidak ada yang dapat didengar.

Dia mengaku bahwa wajah keduanya sering berbisik dengan bahasa setan dan perkara-perkara di neraka kepadanya pada malam hari.

Namun dokter tidak ada yang sanggup untuk melakukan hal tersebut karena terbatasnya peralatan medis ketika itu.

Akhirnya Edward berada pada puncak keputus-asaan yang membuatnya berfikir fatal dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada usia 23 tahun.

Dia menggunakan racun untuk bunuh diri dan menulis dalam surat terakhirnya.

Bahwa muka itu perlu dikeluarkan sebelum dikebumikan karena takut kalau-kalau ia terus membisikkan perkara dahsyat dalam kuburnya.

Sungguh sayang, seorang pemuda yang menawan dengan kepribadian yang mulia akhirnya bunuh diri karena merasa tidak normal.

Jaman dulu selain minimnya pengobatan fisik yang memungkinkan penyembuhan wajah keduanya itu.

Juga kurang pengobatan jiwa seperti seorang psikolog yang sangat berguna bagi sosok seperti Edward tersebut.

Besar kemungkinan memanglah ada cerita riil di balik dongeng Edward Modrake di atas.

Teks 1896 Anomolies and Curiosities of Medicine mengatakan versus narasi serta Edward sudah dipertunjukkan dalam banyak teks.

Seperti dalam permainan sampai musik, bahkan juga lagu Tom Waits ‘Poor Edward’ didasarkan pada cerita itu.

Sayangnya cerita itu dikira murni fiksi untuk sekian waktu, lantaran terlampau fantastis untuk diakui serta, terang, banyak sisi dari narasi yg tidak masuk akal medis waktu itu.

Tetapi sekarang ini, narasi yang dahulu dikira fiksi itu sudah diakui bahwa besar kemungkinan ada peristiwa serta kenyataan riil yang.mendasarinya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved