Malu Kembalikan Buku karena Sudah Kelamaan, Perpustakaan Sumsel Sediakan Ini

Maulan mengungkapkan pihak perpustakaan tak bisa berbuat banyak terkait masih banyaknya masyarakat yang belum mengembalikan buku.

Malu Kembalikan Buku karena Sudah Kelamaan, Perpustakaan Sumsel Sediakan Ini
tribunsumsel.com/Weni Wahyuny
Malu mengembalikan buku di Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan karena sudah lama waktu pengembaliannya, masukan saja ke book drop yang ada di dinding depan Perpustakaan yang terletak di Jalan Demang Lebar Daun. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Weni Wahyuny

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Malu mengembalikan buku di Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan karena sudah lama waktu pengembaliannya, masukan saja ke book drop yang ada di dinding depan Perpustakaan yang terletak di Jalan Demang Lebar Daun.

Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel Maulan Aklil mengatakan drop book tersebut disediakan khusus untuk para peminjam buku yang malu mengembalikan buku karena sudah melebihi batas peminjaman.

Drop book tersebut lanjut Maulan adalah pengembalian buku secara mandiri.

"Peminjam cukup masukkan buku ke dalam lubang yang ada di drop book tersebut. Tapi tunggu print out buku tercetak dan simpan untuk mempermudah konfirmasi petugas," katanya usai rapat di Perpustakaan yang sering disebut Pusda, Senin (27/2/2017).

Maulan mengakui saat ini ratusan buku dengan berbagai judul masih berada di tangan peminjam buku.

Bahkan buku tersebut sudah dipinjam sejak 2016.

Ia menyebutkan paling banyak yang belum mengembalikan buku di Pusda adalah mahasiswa sampai ke masyarakat umum yang berdomisili di Palembang.

"Untuk itu bagi yang belum mengembalikan, silahkan dikembalikan. Atau kalau malu bisa dilakukan di drop book," ungkapnya.

Maulan mengungkapkan pihak perpustakaan tak bisa berbuat banyak terkait masih banyaknya masyarakat yang belum mengembalikan buku.

Termasuk membebankan denda, lanjut Maulan itu tidak termasuk dalam aturan karena Pusda melayani peminjaman buku tanpa denda jika lewat dari waktu peminjaman.

"Tidak ada payung hukumnya untuk membebankan denda, meskipun hanya denda Rp 2000, itu sudah disebut pungli," ungkapnya.

Dengan mendatangi satu per satu alamat peminjam buku, lanjut Maulan itu tak mungkin dilakukan karena jumlah petugas di Perpustakaan terbatas.

"Petugas juga masih menghubungi dan mengirim pesan ke nomor telepon peminjam buku tapi tidak ada respon bahkan ada yang tidak aktif lagi," beber Maulan.

Penulis: Weni Wahyuny
Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved