Tak Sembuh dari Gangguan Jiwa, Heri Tembak Kepalanya Sendiri

Memang selama ini Heri sudah lama mengalami gangguan jiwa, hanya saja tidak terlalu parah, karena setiap habis diberi obat penenang biasanya tenang.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Yohanes Iswahyudi
TRIBUNSUMSEL.COM/EKO HEPRONIS
Kapolsek Lakitan AKP Nasharudin saat sedang memeriksa jenazah Heri Susanto di Desa Prabumulih, Kecamatan Muara Lakitan, sekira pukul 10.00 WIB, Kamis‎ (9/2/2017). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.Com, Eko Hepronis.

TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS -- Heri Susanto (38), warga dusun III Desa Prabumulih I, Kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas (Mura) ditemukan tewas bersimbah dengan kondisi kepala pecah tertembak di dalam rumahnya, Kamis (9/2/2017) sekira pukul 10.00 WIB.

Di duga pemuda lajang ini tewas dengan cara menembak kepalanya sendiri dengan senjata api rakitan (Senpira) jenis kecepek lantaran tak kuat menahan malu karena sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.

Aksi bunuh diri tersebut pertama kali di ketahui oleh ibunya Mariam (65) karena saat peristiwa itu terjadi Heri biasa ia di panggil di tempat tinggalnya sedang berada di dalam rumah. Sementara Mariam (65) ibunya sedang berada luar, namun tiba-tiba Mariam dikejutkan dengan suara dentuman keras.

Mendengar suara dentuman keras itu Mariam langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menemukan anaknya sudah bersimbah darah dalam keadaan kepala pecah, sontak saja Mariam histeris hingga mengagetkan warga sekitar.

Sementara tetangga lainnya yakni Rudi Hartono (41), Arnan (48), dan Joni Persela (40) yang terkejut dengan suara dentuman dan heran mendengar Mariam berteriak histeris langsung bergegas untuk melihat apa terjadi.

"Ketika keempatnya sampai, mereka terkejut menyaksikan Heri sudah tidak bernyawa lagi dengan kondisi kepala pecah dan otak keluar. kemudian salah satu di antara mereka ber empat yakni Rudi Hartono langsung menghubungi kerabat Mariam yang lain " ungkap Kepala Desa (Kades) Prabu Mulih Satu Herman Jaya.

‎Herman juga tidak menyangka jika Heri yang tinggal berdua bersama ibunya itu akan mengakhiri hidup dengan cara tragis.

"Memang selama ini Heri sudah lama mengalami gangguan jiwa, hanya saja tidak terlalu parah, karena setiap habis diberi obat penenang biasanya sakitnya sembuh, dan juga selama ia sakit tidak pernah mengganggu masyarakat,"ucapnya.

Terkait adanya kecepek di rumah Heri. Herman pun kaget karena berdasarkan pantauannya selama ini selaku kades tidak ada warga yang menyimpan kecepek. Itulah sebabnya ketika mendengar Heri bunuh diri dengan cara menembak kepalanya dengan kecepek ia kaget bukan kepalang,

"Kemungkinan itu Kecepek jaman dulu punya keluarganya. Kami juga tidak tahu kalau ada kecepek di rumahnya, Itulah kami terkejut ketika ia meninggal oleh kecepek," ujarnya.‎

Kapolres Mura AKBP, Hari Brata melalui Kapolsek Lakitan, AKP Nasharudin menyampaikan, ketika mendapat laporan ada warga yang meninggal karena dugaan bunuh diri ia langsung terjun kelapangan. Sesampainya di lapangan ia mendapati korban sudah meninggal dunia dengan kepala pecah dan otak keluar.

"Heri yang meninggal dunia mempunyai riwayat penyakit gangguan jiwa dan pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Palembang pada tahun 2011 lalu," ungkapnya.

Sementara untuk motif apakah Heri benar bunuh diri atau tidak, kata Nasharudin sekarang petugas sedang melakukan pendalaman, namun di duga kuat Heri meninggal karena bunuh diri karena ditemukan senpira jenis kecepek disampingnya.

"Diduga Heri depresi dengan penyakit yang dialaminya mengingat obat penenang Heri sudah habis, dan dia tidak sembuh-sembuh, selain itu kita sedang mendalami dari mana asal senpi itu didapat," pungkasnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved