Kesulitan Menyusui Tak Selalu karena Tongue Tie dan Lip Tie

Bagi sebagian ibu, proses menyusui tak selalu mudah. Ada beberapa masalah yang bisa muncul selama menyusui, seperti payudara nyeri hingga luka

Kesulitan Menyusui Tak Selalu karena Tongue Tie dan Lip Tie
Net
menyusui ah 

TRIBUNSUMSEL.COM-Bagi sebagian ibu, proses menyusui tak selalu mudah. Ada beberapa masalah yang bisa muncul selama menyusui, seperti payudara nyeri hingga munculnya luka. Salah satu penyebabnya adalah masalah pelekatan yang belum tepat. Penyebab lainnya bisa jadi karena tongue tie. Belakangan, istilah tongue tie dan lip tie makin sering terdengar.

Tongue tie (ankyloglossia) adalah kondisi di mana dasar lidah melekat melalui frenulum yang tebal, kencang atau pendek yang menyebabkan gerakan lidah terbatas.

Dikutip dari Mayoclinic, penyebab tongue tie belum diketahui hingga saat ini, beberapa kasus dikaitkan dengan faktor genetik.

Kondisi tongue tie memang dapat menyebabkan bayi kesulitan menyusui, tapi bukan berarti setiap kesulitan menyusui sudah pasti disebabkan karena tongue tie. Tongue tie hanyalah salah satu diantaranya.

Menurut dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, ketua Sentra Laktasi Indonesia dan Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia, publikasi ilmiah yang melaporkan insiden tongue tie berkisar 4,2-10,7% pada bayi baru lahir, dan dari keseluruhan kasus hanya sekitar 25% mengalami kesulitan menyusui.

“Jika ada 100 bayi, 4-10 diantaranya mengalami tongue-tie, maka yang bermanifes nyeri puting atau berat badan sulit naik akibat adanya tongue-tie hanya 1-3 kasus saja,” jelasnya pada KOMPAS.com.

Ia menambahkan, 80% ibu yang belum berpengalaman akan mengeluh nyeri saat menyusui, bahkan 50% ibu mengalami puting lecet di minggu pertama.

Dokter Wiyarni pun menegaskan, jika ibu merasa mengalami kesulitan menyusui, segeralah temui konselor menyusui yang kompeten dan memiliki pengetahuan mendalam tentang permasalahan menyusui.

Konselor yang kompeten akan mendengarkan dan mempelajari setiap keluhan ibu. Kemudian akan melakukan penilaian mengenai kondisi bayi, kondisi ibu, kondisi payudara, dan mengamati proses menyusui.

“Ketika konselor merasa tidak dapat menangani masalah menyusui dengan teknik komunikasi konseling, maka ibu dan bayi akan dirujuk ke ahli yang berwenang menyelesaikan masalah medis,” ujar dokter Wiyarni.

Dokter akan melakukan evaluasi mendetail dengan observasi dan analisis, termasuk melihat berat badan bayi. Turunnya atau sulitnya berat badan bayi naik memang bisa jadi disebabkan oleh tongue tie.

Tapi perlu diingat, bahwa sekitar 95% bayi yang lahir spontan melalui vagina akan turun berat badan selama 60 jam pertama kehidupannya. Sedangkan, bayi yang lahir dengan bedah sesar akan turun berat badannya selama 72 jam pertama.

“Sehingga, bukanlah hal yang bijak jika kita langsung menyimpulkan bayi yang sulit naik berat badannya sudah pasti karena tongue tie dan membutuhkan frenotomi (tindakan pemotongan frenulum di bawah lidah) untuk membuat berat badannya naik.”

Apalagi, menegakkan diagnosis tongue tie bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, gejala yang muncul mirip dengan kondisi lain yang menyebabkan gangguan menyusui, seperti bayi rewel setelah menyusu, berat badan turun, atau masalah pelekatan.

Kalaupun bayi didiagnosis tongue tie, tak selalu memerlukan tindakan frenotomi. Terapi non bedah bisa dilakukan dengan memerbaiki posisi dan pelekatan saat menyusui. Pada beberapa kasus, frenulum dapat meregang dan elastis dengan sendirinya.

Editor: Muhamad Edward
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved