Breaking News

Gabungan Ormas Pemuda Sumsel Kutuk Pelaku Pengeboman di Samarinda

“Peristiwa di Samarinda ini merupakan pelajaran berharga dan kita berharap jangan terjadi di Sumsel,” ujarnya.

TRIBUNSUMSEL.COM/SIEMEN
Organisasi kepemudaan di Sumsel yang tergabung dalam Forum Pemuda NKRI Sumsel, mengutuk aksi pengeboman yang terjadi di depan gereja Oikumene Samarinda Minggu (31/11/2016). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Aksi pengeboman yang terjadi di depan gereja Oikumene Samarinda Minggu (31/11), mendapat reaksi tegas serta kecaman keras organisasi kepemudaan di Sumsel yang tergabung dalam Forum Pemuda NKRI Sumsel.

Menyikapi tindakan tidak terpuji itu, Ikatan Pemuda Tionghoa Sumsel memandang bahwa peristiwa tersebut adalah kejadian yang menggerogoti semangat kebangsaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

“Selain itu memandang bahwa rumah Ibadah adalah tempat warga negara beribadah menurut keyakinannya untuk menjadi pribadi yang membangun peradaban dan akhlak mulia sehingga sudah sejatinya rumah ibadah dilindungi oleh hukum dan negara,” ujar Hardi Ketua Ikatan Pemuda Tionghoa Sumsel, Senin (14/11/2016) malam.

Pertemuan yang dihadiri Organisasi Pemuda Khatolik, Ansyor Sumsel, Pemuda Bela Negara, PMII, PMKRI, FPK Sumsel, Banser, Iman Sumsel, IMM IPPNU, MPII Sumsel, Pemuda  Muhammadiyah,  NA Muhammadiyah,  Sumsel, IMM, Pemuda Hindu, Pemuda Budha, Banser, Pemuda Marhaen dan lainnya di Sekretariat pemuda Muhammadiyah jalan Balayuda Palembang.

Menurut Hardi, dengan landasan itu IPTI Sumsel mengutuk keras perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab melakukan pengeboman rumah ibadah tersebut.

“IPTI Sumsel juga berharap pihak keamanan bisa bergerak cepat mengusut tuntas motif pengeboman,”katanya.

Hardi juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak memperkeruh suasana namun menciptakan komunikasi harmonis dan suasana gotong royong di tengah-tengah masyarakat.

“Itu harapan kita  tidak terjadi di Sumsel dan Palembang,” ujarnya.

Senada Apriyadi ketua pemuda Khatolik, Wayan (Pemuda Hindu),  Nurul Mubarok (Pemuda Ansyor Sumsel) dan Fahmi (pemuda Muhammadiyah) juga mengutuk kejadian tersebut karena tidak selaras dengan semangat kebangsaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

“Peristiwa di Samarinda ini merupakan pelajaran berharga dan kita berharap jangan terjadi di Sumsel,” ujarnya.

Menurut ketiganya, Sumsel tidak lama lagi akan menggelar Asian Games tentu membutuhkan suasana yang aman dan tenteram untuk mendukung suksesnya perhelatan akbar tersebut.

“Untuk itu mari kita menciptakan komunikasi harmonis dan menjaga toleransi antar umat beragama serta menggalakkan suasana gotong royong di tengah-tengah masyarakat,”ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Marzuki salah satu inisiator kegiatan mengatakan, setelah kegiatan ini pihaknya akan segera melakukan audiensi dengan Gubernur, Pangdam, Kapolda dan tokoh-tokoh masyarakat untuk berdiskusi membahas masalah ini sekaligus mencari solusi agar peristiwa di provinsi Samarinda tidak terjadi di Sumsel.

“Pemuda Sumsel cinta damai. Kita akan berusaha terus memperkuat persatuan dan kesatuan,” jelasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved