Ternyata Pembunuh Bayaran Berkeliaran di Sekeliling Kita Dampak Negatif Media Sosial
Peluang menjadi pembunuh bayaran tidak terlepas dari sikap dan tingkah laku pengguna akun medsos, yang kerap berbenturan dengan pengguna akun lainnya
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Manusia di zaman serba digital yang kesehariannya tak terlepas dari dunia media sosial, ternyata diam-diam dilirik oleh orang yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran.
Peluang menjadi pembunuh bayaran tidak terlepas dari sikap dan tingkah laku pengguna akun medsos, yang kerap berbenturan dengan pengguna akun lainnya sehingga menyebabkan permusuhan.
Kasi Penindakan Direktorat Kemenkominfo, Albert Aruan mengatakan, pembunuh bayaran mencari peluang pekerjaan dengan ikut serta di dunia digital salah satunya di website dan telegram.
"Ini sudah ditemukan akun-akun yang menginformasikan menerima pekerjaan untuk membunuh, bahkan tidak perlu susah mencarinya di browser, cukup mencari pakai browser kebanyakan seperti UC dan lain-lain," kata dia.
Albert mengungkapkan, dengan banyaknya kejahatan di dunia maya maka pihak aparat penegak hukum pun sudah membentuk tim yang bernama Cyber Patrol yaitu berfungsi untuk mamantau dan menindak apabila diketahui akun negatif tersebut.
"Tugasnya seperti patroli, ada intelnya seperti itu, jadi harus diimbangi dengan kemajuan yang sudah ada dengan protek keamanan dari kepolisian," kata dia.
Bukan hanya memantau kejahatan, lembaga seperti BIN dan Densus 88 juga terus memantau perkembangan terorisme di dunia maya.
Hal itu sebagai upaya menangkal dan mencegah aksi radikalisme.
Selain itu disinggung maraknya berita hoax yang disebarkan oknum tak bertanggung jawab, pihaknya masih belum bisa mendeteksi namun dia meyakini bahwa pembaca yang menerima informasi itu akan selektif dalam mencerna informasi yang diterima.
"Kalau bohong yang pasti pemberi info tidak akan dipercaya lagi," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/pembunuhan_20160912_150527.jpg)