Sumijah: Mau Telpon Cucu Saja Susah Banget

Mereka harus rela menuju ke tempat tinggi seperti di atas jembatan, di atas rumah, bahkan ekstrimnya memanjat pohon.

Editor: M. Syah Beni
Telkomsel
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN- Mengakses internet bagi sebagian besar warga perairan di kabupaten Banyuasin layaknya di perkotaan, sangat mudah sekali, Rabu (27/7/2016).

Padahal beberapa tahun lalu, jangankan mengakses internet, menelepon saja sangat susah.

Mereka harus rela menuju ke tempat tinggi seperti di atas jembatan, di atas rumah, bahkan ekstrimnya memanjat pohon.

Begitu susahnya warga mengusahakan perangkat telekomunikasi menangkap sinyal hanya sekedar menelepon atau mengirim pesan.

Itu dulu. Kini, setelah provider ternama Indonesia, Telkomsel, gencar membangun infrastruktur jaringan di kawasan perairan Kabupaten Banyuasin warga bisa dengan mudahnya berinteraksi antar keluarga, teman dan kerabat tanpa harus memburu sinyal.

Sembari duduk di ruang tamu sambil menonton televisi, para ibu memasak di dapur, bahkan petani yang tengah memanen padi di ladang sudah bisa dengan mudahnya berinteraksi baik berteleponan maupun mengirim pesan.

Selain itu warga juga semakin dimanjakan dengan beraneka ragam cara berinteraksi. Warga tidak hanya berinteraksi dengan cara konvensional -telepon atau SMS- tapi melalui media sosial dan layanan aplikasi interaksi lain.

Media sosial seperti facebook adalah contohnya. Setiap hari, akun-akun facebook warga perairan selalu dipenuhi dengan status dan upload foto maupun video. Line dan WhatsApp misalnya juga sudah menjadi aplikasi alternatif warga perairan untuk berinteraksi antar mereka.

Mereka juga bisa dengan cepat mendapat informasi, pengetahuan, dan kebutuhan lain hanya dengan mengakses internet. Cara bercocok tanam yang baik dengan mudah bisa dipelajari warga perairan hanya dengan mencari informasi di internet.

Namun layanan seperti itu tidak dirasakan semua warga perairan. Bagi mereka yang tinggal di wilayah "pinggiran" kawasan perairan, jangankan mengakses internet sekedar mendapatkan sinyal saja harus berjuang terlebih dahulu.

Sumijah, nenek dengan banyak cucu ini sejak transmigrasi dari Jawa tahun 1980-an sudah tinggal di desa Beringin Agung Kecamatan Muara Sugihan Kabupaten Bayuasin. Sejak saat itu hingga sekarang, ia belum benar-benar merasakan mudahnya berinteraksi dengan keluarga yang tinggal di desa lain.

Usia yang sudah tidak muda lagi, membuatnya tidak bisa lincah ke sana-kemari memburu signal untuk menelepon cucunya yang tinggal di kecamatan lain. Jika tidak ke rumah atau sebaliknya, Sumijah tidak bisa melepas kangen dengan cucunya itu.

"Mau telepon cucu saja susah banget. Mau ke sana sudah gak kuat paling menunggu mereka datang ke rumah," katanya.

Memang kata dia, sinyal di kawasannya tidak begitu kuat. Kadang sinyal penuh, terkadang juga hilang. Perangkat telekomunikasi miliknya terkadang berbunyi tanda pesan masuk tapi ketika dilihat merupakan pesan lama.

Elly, cucu Sumijah yang lain adalah pemburu sinyal. Dia tahu persis dimana letak sinyal berada. Ketika hendak menelepon seseorang, Elly harus pergi ke tempat yang lapang tanpa ada banyak pepohonan. Di sana ia akan mendapatkan sinyal meskipun lemah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved