Glory SFC

Widodo Cahyono Putra Kandidat Pengganti Benny Dollo di SFC

Jajaran manajemen SFC sudah memastikan mengganti pelatih Benny Dollo

Net
Widodo C Putra 

TRIBUNSUMSEL.COM-Jajaran manajemen SFC sudah memastikan mengganti pelatih Benny Dollo.

Satu nama yang dikaitkan bakal menggantikan Benny Dollo adalah Widodo C Putra mantan pelatih Persela.

Dikutip dari berbagai sumber, nama Widodo C Putra tentu tak asing lagi di telinga pecinta sepak bola Indonesia.

Tak hanya karena jabatan asisten pelatih timnas yang pernah ia emban, tapi juga prestasi fenomenalnya sebagai pemain.

Eks striker kelahiran Cilacap, 8 November 1970, ini adalah pemain Indonesia pertama yang berhasil mencetak gol di putaran final Piala Asia—even internasional tertinggi yang pernah diikuti Indonesia hingga saat ini.

Gol itu jadi lebih spesial karena dicetak saat Indonesia melakoni partai debut di Piala Asia pada tahun 1996. Tak tanggung-tanggung, gol bersejarah tersebut dibuatnya ke gawang juara Piala Teluk waktu itu: Kuwait.

Lebih hebatnya lagi, aksi akrobatik Widodo saat menceploskan bola membuat gol itu dinobatkan sebagai Gol Terbaik Piala Asia 1996. Prestasi ini hanya hampir disamai oleh Ponaryo Astaman dan Elie Aiboy di Piala Asia 2004. Karir profesional Widodo dimulai dari klub Galatama, Warna Agung (1990).

Empat tahun kemudian ia pindah ke Petrokimia Gresik, ketika kompetisi Galatama dan Perserikatan baru saja dilebur menjadi Liga Indonesia.

Saat membela Petrokimia (1994-1998) inilah prestasi Widodo melejit, membuatnya selalu masuk timnas. Di Gresik ia juga hanya bertahan selama empat tahun, sebelum kemudian pindah ke Jakarta untuk membela Persija selama (lagi-lagi) empat tahun.

Sayang, meski tiga kali bergabung dengan klub papan atas Indonesia, Widodo tak kunjung meraih trofi. Ketika merasa masa keemasannya sudah habis.

Ia memilih kembali ke Petrokimia pada tahun 2002. Sungguh keputusan tepat, sebab ia langsung meraih gelar juara Liga Indonesia pertamanya, sekaligus juga satu-satunya, di akhir musim pertama comeback-nya ke Gresik.

Tahun 2004, secara resmi Widodo gantung sepatu. Karir sepak bolanya berlanjut ke area teknik dengan menjadi pelatih Petrokimia yang pada tahun 2003 terdegradasi ke Divisi I.

Setelah itu ia sempat menjadi asisten pelatih di Persijap Jepara selama dua tahun, sebelum kemudian dipercaya sebagai asisten pelatih timnas (2006-2008).

Sehabis menangani timnas ia kembali berkiprah di level klub dengan menjadi asisten M. Basri di Persela Lamongan. Ketika M.

Basri dipecat, Widodo naik pangkat menjadi pelatih utama meski hanya sampai pertengahan musim 2009/10. Selepas dari Persela itulah ia terpilih sebagai asisten Alfred Riedl di timnas.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved