2015, BI Sumsel Temukan 2048 Uang Palsu

Mengenai, pemalsuan uang tersebut cenderung pada lembar nominal yang paling besar, Juli menduga hal itu karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

TRIBUNSUMSEL.COM/ARIEF B ROHEKAN
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel, Juli Budi Winatya 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang tahun 2015 menemukan peredaran uang palsu (upal) sebanyak 2.048 lembar.

Menurut Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sumsel, Juli Budi Winatya mengatakan, temuan tersebut bersumber dari laporan perbankan ke BI dan temuan masyarakat termasuk hasil penyidikan pihak kepolisian.

"Sampai bulan Desember 2015 temuan uang palsu mencapai 2.048 lembar," kata Juli, Kamis (4/1/2016).

Berdasarkan laporan bank sentral tersebut, adanya temuan bank, masyarakat dan pihak kepolisian itu karena masyarakat sudah pintar membedakan uang asli ataupun uang palsu.

"Menurut kami ini karena kesadaran dan pemahaman masyarakat, mengenai ciri-ciri keaslian rupiah sudah mulai mengerti," jelasnya.

Adapun pecahan uang palsu yang paling banyak beredar sampai akhir tahun 2015 ditemukan adalah pecahan Rp 100.000 yang mencapai 1.163 lembar, diikuti pecahan Rp 50.000 sebanyak 618 lembar.

Adapun uang pecahan Rp 20.000 mencapai 246 lembar, dan pecahan Rp 10.000 sebanyak 11 lembar. Dimana jumlah ini relatif tidak jauh berbeda dengan tahun 2014 lalu.

"Pada tahun 2015, kalau jumlah laporan temuan lembar upal yang diterima oleh kantor perwakilan BI Sumsel, dibanding jumlah lembarnya uang yang dicairkan (outflow) sebanyak 238.170.399 lembar, persentase uang palsu masih relatif kecil, yaitu hanya 0,00086 persen saja,"tandasnya.

Dalam upaya menekan peredaran uang palsu selama ini, pihak BI melalui bank-bak yang ada sendiri, telah dan terus melakukan sosialisasi ke masyarakat, untuk mengetahui perbedaannya.

"Kita sudah dan terus sosialisasi terus-terusan, dengan cara tidak biasa, seperti pentas dulmuluk. Kita selipkan informasi untuk mengenal upal (uang palsu),"bebernya.

Selain, dengan sosialisasi melalui pentas kesenian, pihak bank juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengurangi transaksi belanja dengan uang non tunai.

"Kemudian dengan berbelanja dengan kartu kredit dan transfer, tanpa menggunakan uang tunai, dan ini di minimarket sudah ada. Jadi, setiap daerah beda level masyarakat dan sosialisasi yang kita sampaikan juga beda,"tuturnya.

Mengenai, pemalsuan uang tersebut cenderung pada lembar nominal yang paling besar, Juli menduga hal itu karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Soal sasarannya uang besar, saya pikir apa yang diambil, karena sesuai dengan resiko yang didapat. Soal pengaruh dilakukan kapan, kita masih menganalisisnya, tapi yang pasti pelaku mengambil moment yang tepat, untuk kira-kira bisa menggunakan upal tersebut," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved