Rupiah Melemah, BI Harus Cepat Intervensi

"Imbasnya sekarang juga sangat terasa karena harga barang impor khususnya elektronik dan gadget naik," kata Anas saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2015).

Shutterstock
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Hajrah

TRIBUNSUMSEL.COM, MAKASSAR - Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Anas Anwar Makkatutu, mengatakan semakin terpuruknya nilai tukar mata uang dalam negeri secara tidak langsung merupakan efek domino dari imbas krisis Yunani.

Ia pun berpendapat hal ini sudah harus disikapi serius melalui peran Bank Indonesia melalui intervensi pasar dengan penguatan cadangan devisa.

Menurut Anas, kondisi ini sudah berlangsung cukup lama dan membuat psikologi pasar dalam negeri terpengaruh terlebih karena kebutuhan dolar AS meningkat akibat musim liburan ke luar negeri.

"Imbasnya sekarang juga sangat terasa karena harga barang impor khususnya elektronik dan gadget naik," kata Anas saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2015).

Salah satu bentuk antisipasi menurut dia antara lain bagaimana penguatan dalam negeri bisa melakukan peningkatan ekspor dan meredam konsumsi barang atau produk impor.

Menurut Anas potensi Sulsel yang dikenal memiliki magnet dalam perdagangan internasional khususnya ekspor bisa memberi nilai positif, dan harapannya kontribusi ini bisa berdampak secara nasional.

Masyarakat, kata dia, diminta tidak panik dan ikut berspekulasi dengan ikut memborong dolar yang pada akhirnya membuat mata uang ini semakin kuat.

Anas mengaku baluran kebijakan Bank Indonesia yang mewajibkan transaksi wajib rupiah menjadi salah satu solusi yang cukup konkrit untuk membuat mata uang Rupiah bisa bangkit dinegeri sendiri.

Seperti diketahui hari ini, Kamis (24/7) mata uang Rupiah berada di level 13.395 per dolar AS, melemah 0,15 persen dari posisi hari sebelumnya 13.375 per dolar AS.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved