Lipstik Dulunya Dianggap Klenik dan Alat Sihir

Namun, ratusan tahun yang lalu, kondisi yang terjadi sama sekali berbeda dan cenderung tidak masuk akal.

TRIBUNSUMSEL.COM - Melihat wanita mengenakan lipstik di era sekarang bukanlah sesuatu yang aneh atau tabu. Sebaliknya, lipstik merupakan salah satu produk kosmetik yang wajib dimiliki oleh wanita.

Namun, ratusan tahun yang lalu, kondisi yang terjadi sama sekali berbeda dan cenderung tidak masuk akal.

Pada tahun 1770, lipstik merupakan salah satu benda yang dianggap masyarakat luas sebagai benda yang tidak pantas untuk dikenakan. Bahkan, ada aturan tegas yang menyatakan bahwa wanita yang mengenakan lipstik akan dijatuhi hukuman berat.

Selain itu, perona bibir ini dikenal sebagai benda klenik yang mengandung unsur sihir mematikan. Lalu, wanita yang terlihat memulaskan dan mengenakan lipstik pada bibir mereka, dianggap sebagai wanita bayaran, wanita nakal, dan penggoda. Benar-benar tidak adil.

Pasalnya, pada era tersebut, lipstik hanya diizinkan untuk kebutuhan seni, seperti pertunjukan teater. Kemudian, lipstik juga dimanfaatkan sebagai “label” untuk membedakan wanita terhormat dan wanita tuna susila.

Kondisi naas ini, baru mengalami perubahan ketika zaman memasuki abad ke-20. Pada masa ini, lipstik sudah dianggap sebagai kosmetika yang tidak membahayakan, bahkan dipandang sebagai ikon kecantikan.

Tren tersebut bermula semenjak seorang aktris asal Perancis, Sarah Bernhardt, berani menggebrak aturan dan mulai memperkenalkan lipstik sebagai hak pribadi wanita.

Bernhardt dengan berani dan percaya diri mengenakan lipstik warna merah dalam aktivitas sehari-hari. Nah, penentangan Bernhardt tersebut ternyata didukung oleh para wanita yang sudah muak sebagai kaum minoritas dan dilarang untuk bersuara dalam hal apa pun.

Lalu, waktu pun bergulir, popularitas lipstik semakin meningkat ketika pada tahun 1921, Elizabeth Arden, yang sekarang tersohor sebagai brand kosmetika mengajukan protes dengan menggenakan lipstic bewarna merah menyala.

Arden menyatakan bahwa semua wanita di dunia ini memiliki hak dan kebutuhan untuk tampil cantik.

Kisah selanjutnya berlanjut pada era perang dunia kedua, di mana lipstik bewarna merah menajdi alat rias penting para pekerja wanita. Pada masa ini, lipstik rona merah dikenal dengan sebutan Fighting Red, atau petarung merah.

Seorang kolonel asal Inggris, Mervin Willett Gonin, mendokumentasikan efek dari lipstik merah saat diberikan pada wanita penghuni kamp pengungsian Nazi.

"Aku tak percaya apapun sampai melihat efek dari lisptik. Setidaknya hal tersebut membuat mereka merasakan menjadi seperti seorang manusia lagi. Mengenakan lipstik telah mengembalikan mereka menjadi seperti manusia, bukan tahanan,” tagas Gonin.

Sumber: Kompas
Tags
lipstik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved