Kalau Pabrik Tidak Naikkan Harga, Toko Bangunan Juga
Yang pasti didasari dengan biaya angkut atau ekspedisi. Karena disitulah peran BBM, sebagai ongkos angkut dari bisnis ini.
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Rencana akan dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi disambut beragam oleh masyarakat. Termasuk dari kalangan penjual Bahan Bangunan. Sebagian merasa tidak risau jka nantinya naiknya harga BBM akan berdampak lesunya penjualan dikarenakan harga bahan bangunan jadi ikut-ikutan naik.
Dani, Store Manager Mitra Bangunan Supermarket mengungkapkan sampai saat ini belum untuk bahan bangunan material kering (ubin keramik, gagang pintu dan lain sebagainya) belum keduluan "lata" menaikkan harga.
"Sampai saat ini harga barang masih adem ayem, normal. Belum mencuri start," ujarnya saat dibincangi, Senin (3/11/2014).
Dan sudah sewajarnya nanti setelah BBM naik baru harganya disesuaikan dengan costnya. Yang pasti didasari dengan biaya angkut atau ekspedisi. Karena disitulah peran BBM, sebagai ongkos angkut dari bisnis ini.
Sedikit berbeda degan Topan pemilik Toko Bahan Bangunan Sumber Jaya Bahan di jalan Musi Raya Perumnas. Naik turunnya harga bangunan di Toko miiknya disesuaikan dari harga yang pabrk tetapkan pula.
Meski harga BBM naik tetapi harga barang dar pabrik tidak naik, Maka Ia pun tidak akan menaikkan harganya pula.
"Nuruti harga pabrik. Kalo pabrik dak naek kito dak naekke jugo. Kito kan cuma penjual bukan pembuat," ujarnya.
Harga bahan bangunan di tokonya mash dijual dengan harga standar pasar. Untuk Semen padang di jual Rp57ribu per sak. Atau dijual Rp 2ribu perklilo. Pasir sekubiknya (satu bak mobil pick up standar) dijual Rp 85 ribu. Batu bata Rp 450 perbuah. Behel. Rp 35ribu. Dan batu koral Rp 360ribu/kubik.