Dulu Bela Sulut Lewat Olahraga, Sekarang Jadi Tukang Ojek hingga Sekurity

karena faktanya ada sejumlah atlet peraih medali pada berbagai kejuaraan, kehidupan ekonominya justru kini cukup memprihatinkan.

Editor: Weni Wahyuny

Kenyataan seperti itu tak membuat Sulut berpasrah pada nasib. Meski dibayang-bayangi pencaplokan atlet oleh provinsi lain, menurut Kepala Bidang Olahraga Dispora OJ Mewengkang, pembinaan atlet sejak dini tetap dilakukan.

Satu di antara fasiltas produksi atlet Sulut yakni PPLP. Atlet yang berstatus pelajar berprestasi di bidang olahraga dikembangkan bakatnya di fasilitas PPLP. Meski kenyataannya atlet muda dibina hanya sampai tingkat SMA.

"Mau masuk di sini (PPLP) bukan sembarang, seleksinya ketat. Menggunakan sistem seperti promosi dan degradasi, katanya.

Saat ini di PPLP ada 55 atlet terdiri dari enam cabang olahraga andalan Sulut yakni anggar, silat, karate, tinju, atletik, dan bulu tangkis. Program pengembangan ini, kata Mewengkang, pelajar tingkat SMP dan SMA tetap bersekolah di sekolah biasa, namun keseharian mereka dijalani di pemusatan latihan PPLP Tondano.

"Pagi latihan, sepulang sekolah juga latihan, setiap hari begitu," katanya.

Para atlet muda ini akan juga diberi uang saku per bulan Rp 500 ribu. Setelah menyelesaikan SMA, atlet muda akan hengkang dari PPLP dan diberi kebebasan menentukan hidup, bisa terus ke PPLM (mahasiswa), atau pindah ke provinsi lain dengan fasilitas lebih menjanjikan.

Sumber: Kompas
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved