PARADE FOTO

Foto Esai Radio

Suatu hari saya tidak dapat lagi memperbaiki televisi karena televisi sekarang telah canggih-canggih dan murah

Foto Esai Radio - radio1.jpg
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
Foto Esai Radio - radio2.jpg
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
Foto Esai Radio - radio4.jpg
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
Foto Esai Radio - radio5.jpg
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
Foto Esai Radio - radio6.jpg
TRIBUNSUMSEL.COM/ABRIANSYAH LIBERTO
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ruang yang berukuran 3x1 meter di pinggir Jalan Pangeran Abdurrohim kawasan 26 Ilir ini penuh sesak dipadati oleh televisi yang lawas disinilah tempat sopian mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Tangannya sangat cekatan menyolder elektronik televisi yang rusak. Dari tahun 1989 sampai sekarang dia masih tetap mengeluti perbaikan televisi. Sesekali matanya tidak mampu lagi melihat benda-benda yang sangat kecil, dia terpaksa memakai kaca pembesar untuk melihat detail kerusakan yang akan dia perbaiki. Ayah satu bapak ini juga melakukan bisnis jual beli televisi agar dapat memenuhi kebutuhan dapur keluarga.

"Saya kadang membeli televisi yang rusak dari penjual dengan harga Rp 50 ribu,setelah saya perbaiki televisi tersebut saya jual lagi dengan harga Rp 250-300 rupiah," ujar lelaki satu anak itu.

Dia mengatakan mungkin suatu hari saya tidak dapat lagi memperbaiki televisi karena televisi sekarang telah canggih-canggih dan murah membuat orang memlih untuk membeli daripada memperbaiki. Saya juga hanya dapat memperbaiki televisi tabung,selain itu televisi jaman sekarang sukar sekali untuk diperbaiki.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved