Warga Cemas Lewati Jembatan Gantung Ini
Jembatan itu merupakan akses utama menuju ke perkebunan warga.
Tayang:
Penulis: Kharisma Tri Saputra |
TRIBUNSUMSEL.COM/KHARISMA
Warga Desa Lebak Budi, Kecamatan Tanjung Agung saat menunjukkan jembatan gantung yang rusak di desa mereka, Kamis (24/1/2013).
TRIBUNSUMSEL.COM, MUARAENIM - Warga desa Lebak Budi, Kecamatan Tanjung
Agung mengeluhkan Kondisi jembatan gantung di desa mereka, karena
kondisinya yang sudah banyak berkarat dan keropos. Mereka selalu was-was
jika melewati jembatan tersebut, karena membahayakan bagi mereka.
“Kita selalu was-was jika melewati jembatan gantung ini, karena membahayakan bagi yang melintas. Padahal Jembatan gantung tersebut sangat berguna bagi masyarakat, baik menuju perkampungan maupun ke kebun,” ujar Saril, seorang warga Desa Lebak Budi, pada Tribunsumsel.com, Kamis (24/1/2013).
Menurut Saril, jembatan gantung tersebut, dibangun pada tahun 2004 lalu oleh almarhum H Kalamudin Djinab, Bupati Muaraenim kala itu. Sampai saat ini belum pernah mengalami perbaikan atau rehab. Jadi wajar saja lantai maupun tali jembatan banyak yang mulai keropos.
Selaku warga, kata Saril, berharap kepada Pemkab Muaraenim dapat segera melakukan rehab jembatan, agar tidak membahayakan warga yang melintas.
“Jika jembatan ini putus atau tidak bisa difungsikan, maka kita akan mengalami kesulitan untuk mengangkut hasil panen di kebun. Karena jembatan tersebut, merupakan jalan satu-satunya menuju ke lokasi perkebunan kita,” tuturnya.
Hal serupa juga dikatakan warga lainnya, yaitu Reli yang mengatakan bahwa memang saat ini kondisi jembatan Desa Lebak Budi butuh perbaikan atau rehab, lantaran lantainya sudah banyak yang berlobang dan keropos.
“Kita khawatir di jembatan itu banyak anak-anak yang sering bermain disana. Kita meminta kepada Pemkab Muaraenim untuk segera melakukan perbaikan agar tidak amblas. Apalagi jembatan itu adalah warisan dari almarhum H Kalamuddin,” ungkap Reli.
Jembatan itu, tambah Reli, merupakan akses utama menuju ke perkebunan warga. Jika sampai amblas, maka dapat merusak perekonomian warga. Intinya, mereka berharap dapat segera direhab oleh Pemkab Muaraenim.
“Mudah-mudahan melalui pemberitaan ini, jembatan di desa kita bisa segera diperbaiki oleh Pemkab Muaraenim, agar tidak mengganggu aktifitas warga sehari-hari ke kebun,” ucap dia.
“Kita selalu was-was jika melewati jembatan gantung ini, karena membahayakan bagi yang melintas. Padahal Jembatan gantung tersebut sangat berguna bagi masyarakat, baik menuju perkampungan maupun ke kebun,” ujar Saril, seorang warga Desa Lebak Budi, pada Tribunsumsel.com, Kamis (24/1/2013).
Menurut Saril, jembatan gantung tersebut, dibangun pada tahun 2004 lalu oleh almarhum H Kalamudin Djinab, Bupati Muaraenim kala itu. Sampai saat ini belum pernah mengalami perbaikan atau rehab. Jadi wajar saja lantai maupun tali jembatan banyak yang mulai keropos.
Selaku warga, kata Saril, berharap kepada Pemkab Muaraenim dapat segera melakukan rehab jembatan, agar tidak membahayakan warga yang melintas.
“Jika jembatan ini putus atau tidak bisa difungsikan, maka kita akan mengalami kesulitan untuk mengangkut hasil panen di kebun. Karena jembatan tersebut, merupakan jalan satu-satunya menuju ke lokasi perkebunan kita,” tuturnya.
Hal serupa juga dikatakan warga lainnya, yaitu Reli yang mengatakan bahwa memang saat ini kondisi jembatan Desa Lebak Budi butuh perbaikan atau rehab, lantaran lantainya sudah banyak yang berlobang dan keropos.
“Kita khawatir di jembatan itu banyak anak-anak yang sering bermain disana. Kita meminta kepada Pemkab Muaraenim untuk segera melakukan perbaikan agar tidak amblas. Apalagi jembatan itu adalah warisan dari almarhum H Kalamuddin,” ungkap Reli.
Jembatan itu, tambah Reli, merupakan akses utama menuju ke perkebunan warga. Jika sampai amblas, maka dapat merusak perekonomian warga. Intinya, mereka berharap dapat segera direhab oleh Pemkab Muaraenim.
“Mudah-mudahan melalui pemberitaan ini, jembatan di desa kita bisa segera diperbaiki oleh Pemkab Muaraenim, agar tidak mengganggu aktifitas warga sehari-hari ke kebun,” ucap dia.